Imam Mahdi Imam Zaman

Membawa kebenaran Islam

Al Quran suci vs Tazdkirah

Al Quran suci vs Tazdkirah

Dari Nur suci Al-Qur’an muncul hari yang terang
Angin musim semi semilir mengusap kuntum hati.
Mentari pun tidak memiliki Nur dan kecemerlangan ini
Pesona dan keindahannya pun tak ada pada rembulan.
Yusuf dilemparkan sendiri ke sebuah lubang
Sedangkan Yusuf yang ini telah menarik manusia ke luar lubang.
Dari sumber segala ilmu, ia telah mengungkap ratusan kebenaran
Keindahannya menggugah wawasan mulia.
Tahukah kalian betapa luhur fitrat pengetahuan miliknya?
Penaka madu surgawi menetes dari wahyu Ilahi.
Ketika mentari kebenaran ini muncul di dunia,
Semua celepuk yang memuja kegelapan, bersembunyi semua.
Tak ada yang bisa merasa pasti di dunia ini,
Kecuali ia yang berlindung dalam wujudnya.
Ia yang diberkati dengan pengetahuannya
Menjadi khazanah pengetahuan,
Ia yang tidak menyadarinya
Serupa mereka yang tak tahu sesuatu apa.
Hujan rahmat Ilahi menghampiri dirinya
Wahai sialnya mereka yang meninggalkannya dan mencari yang lain.
Kecenderungan kepada dosa adalah gejala syaitan bernoda
Yang kuanggap manusia hanya mereka yang meninggal kannya.
Wahai tambang keindahan, aku tahu sumbermu
Engkau adalah Nur dari Allah yang mencipta semesta.
Aku tak hasrat dengan siapa pun, hanya engkau kasihku
Kami telah menerima nurmu dari Dia yang mendengar doa.
(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 304-305, London, 1984).

Demikian indahnya syair yang dibuat oleh Ghulam Ahmad untuk menandakan ketinggian dan keindahan Al-Quran nur karim. Indahnya puisi ini sudah jelas menunjukkan pandangan Ghulam Ahmad dan Ahmadiyah terhadap Al-Quran.

Tazkirah adalah bukan Kitab suci atau Wahyu yang berisi Syariat seperti halnya sebagai pegangan hidup agama2 samawi. Tazkirah adalah kumpulan wahyu, kasyaf, mimpi-mimpi benar yang diterima Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang belakangan setelah wafatnya dikumpulkan menjadi sebuah buku oleh para pengikutnya, kaum Ahmadi.

Sehubungan dengan adanya beberapa kesamaan ayat-ayat suci dalam Al-Quran yang juga termuat dalam Tadzkirah, menunjukkan firman yang diterima oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s (HMGA) juga datang dan bersumber dari sumber yang sama dengan firman yang diperoleh YML Rasulullah saw, yaitu Allah Ta’ala. Bukankah logikanya, ini menandakan bahwa beliau memang dan benar-benar utusan Allah Ta’ala? Coba diperhatikan, berapa banyak firman Allah Ta’ala yang disampaikan kepada Nabi Musa a.s, kemudian disampaikan lagi kepada Isa a.s dan Nabi Muhammad s.a.w? Dan kita tidak akan pernah menyebut para rasul YML tersebut sebagai pembajak, penjiplak dan pencontek firman Allah yang diturunkan dari kitab sebelumnya.

Para pihak yang belum mengenal Ahmadiyah sering mengatakan bahwa Kitab Tadzkirah adalah kitab sucinya Jemaat Ahmadiyah karena di halaman depan kitab itu tertulis “wahyu muqaddas” (wahyu suci), dan karena
dalam kitab ini banyak memuat wahyu-wahyu suci dari Allah yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad dan wahyu-wahyu suci itu kemudian dikumpulkan menjadi sebuah kitab, maka Tadzkirah memang layak dinamakan sebagai kitab Suci, dan kalau tidak dikumpulkan menjadi sebuah kitab maka wahyu-wahyu itu tidaklah suci.

Memang benar, pada halaman pertama Kitab (Buku) Tadzkirah terdapat tulisan “wahyu muqaddas” dan setiap Muslim yang suka belajar pasti mengerti bahwa semua wahyu yang berasal dari Allah Ta’ala adalah wahyu
muqaddas (wahyu suci). Wahyu dari Allah yang diterima oleh para nabi adalah wahyu suci. Wahyu dari Allah yang diterima oleh perempuan (Siti Maryam dan ibundanya Nabi Musa a.s.) adalah wahyu suci. Wahyu dari
Allah yang diterima oleh laki-laki yang bukan nabi (para sahabat Nabi Isa a.s.) adalah wahyu suci. Wahyu dari Allah yang diterima oleh binatang (Lebah) adalah wahyu suci. Wahyu dari Allah yang diterima oleh para wali (Imam Syaafi’i r.h., Imam Ahmad bin Hanbal r.h., Syekh Muhyiddin ibn Arabi r.h., Syekh Abdul Qadir al-Jaelani r.h., dan
lain-lain) adalah wahyu suci. Demikian pula dengan wahyu dari Allah Ta’ala yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah wahyu suci. Semua wahyu dari Allah Ta’ala kepada hamba yang dikehendaki- Nya tidak
akan pernah berhenti, karena Allah adalah Mutakallim (Maha Berkata-kata). Karena para pihak yang memusuhi berusaha mengatakan bahwa wahyu-wahyu suci (wahyu muqaddas) yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad dan kemudian dikumpulkan dalam suatu buku (Buku Tadzkirah) harus dinamakan sebagai kitab suci, dan jika tidak dinamakan sebagai kitab suci, maka wahyu-wahyu itu tidak suci.

Logika yang keliru seperti itu jelas timbul dari kurangnya pengetahuan dan bertentangan dengan fakta yang ada. Kanjeng Sayyidina Rasulullah s.a.w. banyak menerima wahyu-wahyu suci (wahyu muqaddas) dari Allah Ta’ala yang kemudian dikumpulkan dalam suatu buku namun TIDAKdinamakan sebagai KITAB SUCI oleh umat Islam. Wahyu-wahyu suci itu dikenal dengan nama HADITS QUDSI (Hadits Suci), dan wahyu-wahyu suci itu bukanlah bagian dari Al-Qur’an.

Apakah para pihak yang memusuhi Ahmadiyah itu berani mengatakan wahyu-wahyu suci Hadits Qudsi) yang diterima oleh Rasulullah s.a.w. dan dikumpulkan oleh orang-orang Islam ke alam suatu buku kemudian dinamakan sebagai KITAB SUCI? Tentu jawaban mereka adalah: Ya, Hadits Qudsi bukanlah kitab suci…” Demikian pula jawaban soal Tadzkirah, bagi Jemaat Ahmadiyah kitab Tadzkirah bukanlah Kitab Suci, dan kitab sucinya Jemaat Ahmadiyah adalah Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Perbedaan Al-Quran terbitan Jemaat Ahmadiyah dibandingkan beberapa naskah Al-Quran terbitan yang lain terletak pada penomoran ayat. Jemaat Ahmadiyah memulai penomoran ayat dari “Bismillah…” sebagaimana hadits Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.: “Nabi s.a.w. tidak mengetahui pemisahan antara Surah itu sehingga Bismillahirrahmaanirrahiim turun kepadanya.” (H. R. Abu Daud, “Kitab Shalat”, dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”)

Bagaimana sesungguhnya pandangan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s terhadap Alquran suci dan nabi Muhammad s.a.w.

1. Sub judul : YANG MENDAPAT KEMULIAAN DILANGIT (hal.20, buku Bahtera Nuh)
Ada pula bagimu sekalian suatu ajaran yang penting, yaitu kamu hendaknya jangan meninggalkan Alquran sebagai benda yang dilupakan; sebab, justru didalam Alquran lah terdapat kehidupanmu. Barang siapa memuliakan Alquran ia akan memperoleh kemuliaan dilangit. Barang siapa lebih mengutamakan Alquran dari segala Hadis dan dari segala ucapan lain, akan diutamakan dilangit. Bagi umat manusia diatas permukaan bumi ini, kini tidak ada Kitab lain kecuali Alquran dan bagi seluruh bani Adam kini tidak ada seorang rasul juru safaat selain Muhammad Mustafa s.a.w. Maka berusahalah untuk menaruh kecintaan yang setulus-tulusnya kepada Nabi agung itu dan janganlah meninggikan seseorang selain beliau dalam segi apapun. Agar dilangit kamu dicatat, didaftar orang-orang yang memperoleh keselamatan.

2. Di halaman 40 buku Bahtera Nuh, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s juga menulis dengan sub judul “KETINGGIAN ALQURAN”. didalam Alquran terdapat larangan untuk beribadah kepada sesuatu selain Tuhan: terlarang untuk menyembah manusia, hewan, matahari, bulan, dan sesuatu planit lain; begitu pula terlarang untuk memuja sarana-sarana duniawi dan dirimu sendiri. Oleh karena itu, berhati-hatilah dan janganlah melangkahkan kaki biarpun hanya selangkah tetapi bertentangan dengan ajaran Tuhan dan petunjuk Alquran. Aku berkata dengan sesungguh-sungguhny a, bahwa barangsiapa mengabaikan suatu perintah sekecil-kecilnya diantara sejumlah tujuh ratus buah perintah Alquran, ia menutup pintu keselamatan bagi dirinya sendiri dengan tangannya sendiri.
Maka bacalah Alquran dengan seksama dan hendaklah kamu sangat mencintainya dan dengan demikian rupa cintanya sehingga kamu belum pernah mencintai sesuatu yang lain dari itu, karena sebagaimana Tuhan berfirman kepadaku bahwa segala macam kebaikan terdapat didalam Alquran, itu sungguh benar. Alangkah sayangnya orang-orang yang lebih mengutamakan sesuatu selain Alquran. Sumber segala kebahagian dan keselamatan bagimu terdapat didalam Alquran. Di bawah kolong langit ini tidak ada sebuah kitabpun yang secara langsung dapat memberi petunjuk-petunjuk kepadamu kecuali Alquran. Allah Ta’ala telah berkenan berbuat banyak kebajikan kepadamu dengan menganugerahkan kepadamu sebuah Kitab Suci seperti Alquran. Jika sekiranya Alquran tidak diturunkan, maka seantero dunia tidak ubahnya hanya laksana segumpal daging yang menjijikan belaka.

Muhasrul itulah ajaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s kepada murid-murid beliau yang terdapat dalam buku Bahtera Nuh yang katakanya anda juga punya. Mengapa anda masih ngotot dengan Tazkirah dan ingin memaksakan kitab suci Ahmadiyah adalah Tazkirah? Mengapa mata anda anda butakan atas fakta ini. Mengapa hati anda anda bengkokkan atas kebenaranan ini?

Juni 17, 2008 - Posted by | Ahmadiyah

3 Komentar »

  1. Kami telah teliti bahwa didalam Tadzkirah tidak ada Mirza Ghulam Ahmad mengaku nabi, jadi tibulnya fitnah.

    Komentar oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi | Juli 3, 2008

  2. Yang menyebut Ghulam Ahmad adalah nabi zili adalah golongan anaknya yaitu pimpinan Bashiruddin Mahmud Ahmad (khalifah ke-2) yang kemudian disebut Ahmadiyah Qadian.
    Dan ini terjadi pada tahun 1914, ketika mengadakan pemilihan khalifah yang ke-2 setelah yang ke-1 Maulana Hakim Nuruddin.
    Golongan pimpinan Maulana Muhamad Ali, memprotes dan mengatakan bahwa Ghulam Ahmad adalah mujaddid abad ke-14 hijrah, dan kemudian dikenal dengan nama Gerakan Ahmadiyah Lahore (Ahmadiyya Anjuman Lahore).

    Yang salah golongan anaknya, bukan Ghulam Ahmadnya.
    Makanya Ghulam Ahmad jangan difitnah demikian.
    Fitnah adalah lebih kejam dari pembunuhan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Komentar oleh Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi | Juli 9, 2008

  3. Bahkan anda pun tidak berhak menentukan mana yang salah dan mana yang benar…. Bapak Soegana….
    Bukankan kebenaran yang hakiki hanya Allah yang tahu, dan kita hanya diberi setitik saja…. dan bukan hak kita untuk menyalahkan siapapun dalam kaitannya dengan kebenaranNya

    Komentar oleh Imam Mahdi Kedatangan Imam Zaman | Agustus 4, 2008


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.