Imam Mahdi Imam Zaman

Membawa kebenaran Islam

Nasib Politik Kebangsaan NU

Nasib Politik Kebangsaan NU

Oleh Imam Ghazali Said

“Berkah” reformasi, antara lain, tokoh-tokoh NU dapat menduduki
jabatan terhomat di negeri ini. Baik jabatan elite parpol yang tumbuh
bak jamur di musim hujan maupun jabatan di pemerintahan pada semua
tingkat; legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Tokoh NU pernah jadi presiden (Gus Dur) dan wakil presiden (Hamzah
Haz dan Jusuf Kalla), wakil ketua DPR (Muhaimin Iskandar, Khofifah
Indar Prawansa), wakil ketua MA (M. Taufiq), hakim Mahkamah
Konstutusi (Mahfud M.D.), untuk menyebut beberapa contoh.

Di beberapa daerah, terutama Jatim dan Jateng, elite NU “ramai-ramai”
menjadi cagub dan cawagub. Ada pula yang sudah berhasil memenangkan
pilbub langsung sebagai bupati dan wakil bupati.

Pertanyaannya, apakah jabatan-jabatan penting tersebut diraih melalui
pintu PKB? Ternyata tidak. Gus Dur jadi presiden lebih banyak
didukung Poros Tengah yang dimotori Amin Rais yang memimpin PAN.
Hamzah Haz jadi Wapres karena didukung PPP yang berkoalisi dengan
PDIP. Jusuf Kalla jadi Wapres karena ditarik oleh Partai Demokrat.

Mayoritas cabup dan cawabup yang diusung PKB (terutama di Jatim)
malah “keok” oleh cabup/cawabup partai lain. Di Jabar cagub/cawagub
koalisi PKB, PDIP, dan PPP yang menampilkan Agum Gumelar dan ketua NU
Jabar “keok” di hadapan cagub PKS-PAN.

Timbul Pertanyaan

Fakta-fakta di atas menimbulkan pertanyaan, sejauh mana daya rekat
ideologis-politis dan kultural antara NU dan PKB? Sudah jadi realita,
warga NU tersebar ke berbagai kekuatan parpol. Kita dapat mengamati,
hampir pada semua parpol yang berbasis ideologi Islam dan
nasionalisme kebangsaan, pasti salah seorang di antara mereka adalah
warga NU.

Realita itu menunjukkan warga NU secara faktual tidak bisa
dimobilisir untuk berkonsensus secara utuh untuk menyikapi persoalan-
persoalan yang bersifat politis. Ini tidak hanya terjadi pada tataran
warga akar rumput dengan ikatan kulturalnya yang sangat kuat. Gejala
demikian juga terjadi pada elite-elite NU, baik yang memimpin parpol,
ormas dan LSM, juga terjadi di internal induk organisasi NU sendiri.

Sikap terhadap “kebrutalan” FPI, misalnya, tidak membuat elite NU
bersatu. Demikian juga sikap terhadap “penyimpangan” teologi
Ahmadiyah tidak membuat seluruh elite PB NU bersatu.

Diferensiasi sikap di internal PB NU berakibat tampilan organisasi
baik secara politis maupun kultural “kurang wibawa”. NU tidak mampu
menjadi kekuatan penyeimbang kebijakan negara. Suara formal NU tidak
banyak berpengaruh terhadap keluarnya SKB Ahmadiyah. Bahkan, NU
terbawa arus mengikuti cara berpikir “Islam kanan” untuk mencapai
tujuannya.

Lalu, apa langkah yang perlu dilakukan NU struktural untuk
meningkatkan wibawa organisasi? Kemudian, apa dan bagaimana cara
melakukan reformasi internal PKB dalam menghadapi “carut-marut” warga
NU tersebut?

Kondisi yang sangat memprihatinkan itu ditambah dengan perpecahan dan
konflik yang mendera PKB sepanjang sejarahnya dan tidak ada tanda-
tanda akan segera selesai. Prediksi sementara; kubu mana pun (Cak
Imin atau Gus Dur) yang menang akan berpengaruh terhadap perolehan
suara dan kursi PKB di DPR pada Pemilu 2009.

Perumusan Visi Politik

Diakui atau tidak, NU punya hubungan historis kultural, ideologis dan
fungsional dengan sejumlah parpol (terutama PPP, PKB, PNUI, PKNU,
dll). Karena itu, NU harus bisa bekerja sinergis dengan parpol
tersebut. Politik “Islam dalam bingkai kebangsaan” yang menjadi
andalan ideologi NU seharusnya diimplementasikan oleh partai-partai
itu dalam visi dan misi parpol dan diperjuangkan dalam sidang-sidang
parlemen. Tentu, koordinasi dan penggalangan kekuatan harus muncul
dari NU sebagai “bapak”.

Di situlah pentingnya elite NU dalam semua hierarki untuk
bersikap “bijak” dan mengayomi semua kekuatan politik yang punya
suara di parlemen. Perekat “Islam dan kebangsaan” harus menjadi
prioritas utama perjuangan semua parpol yang berbasis warga NU.
Dengan demikian, akan terjadi koalisi strategis antarpolitisi NU yang
tersebar dalam beberapa parpol, termasuk Golkar dan PDIP.

Perkembangan “gerakan Islam baru” yang condong ke “kanan” mestinya
menjadi motivator agar segera merealisasikan koalisi politisi NU.
Sebab, negara dengan konstitusinya yang secara eksplisit mengakui
kebhinnekaan ini harus terus didialogkan dengan perkembangan zaman
tanpa mengubah substansinya.

Sangat disayangkan politisi NU, bahkan petinggi NU sendiri, mengikuti
gelombang arus “Islam kanan” tersebut ketika menghadapi tuntutan
pembubaran JAI. Padahal, JAI bukan gerakan dan organisasi yang baru
lahir. Organisasi ini tumbuh dan berdiri beriringan dengan berdirinya
NU pada 1920-an. Dan telah terjadi dialog intensif di internal
gerakan-gerakan Islam waktu itu.

Hasilnya? Mereka saling “menyalahkan” ; tapi tidak saling mengafirkan.
Mereka ikut berjuang mempertahankan dan mengisi kemerdekaan republik
tercinta ini.

Mestinya, NU memelopori politik kebangsaan seperti yang sering
didengungkan; mengayomi dan berdakwah secara lemah lembut; bukan
mendukung pengafiran, pemurtadan, dan pembubaran; dengan
alasan “penodaan agama”.

Mengapa istilah penodaan agama baru muncul sekarang seirama dengan
fatwa MUI, HTI, FPI, dan MMI ? Bukankah organisasi-organisa si ini
baru berdiri (kecuali MUI) di era reformasi? Mengapa NU,
Muhammadiyah, dan Persis tidak memurtadkan JAI sejak awal berdirinya?
Apakah JAI dulu lurus dan sekarang menyimpang?

Juga apakah ulama sekelas KH. Hasyim Asy’ari, KH A. Dahlan (yang
putranya, Irfan Dahlan) menjadi mubalig JAI, dan Ustad A. Hassan itu
bodoh dan pengecut sehingga tidak berani mengeluarkan fatwa murtad
dan kafir pada JAI? Ini harus dijawab oleh elite NU, terutama yang
merangkap jabatan di MUI dan FPI?

Info di PB NU menyatakan, manuver elite NU yang cenderung mengikuti
irama “Islam kanan” dalam menghadapi berbagai isu, seperti APP, JAI,
dan FPI, itu bukan “murni sikap politik kebangsaan NU”, tetapi karena
didorong “persaingan pengaruh” dengan Gus Dur.

Jika betul, saya sebagai kader NU sangat sedih. Sebab,
ideologi “politik kebangsaan” yang intinya berjuang untuk menegakkan
Islam yang ramah di negeri tercinta ini dinodai kepentingan pribadi
yang semestinya tak terjadi.

NU harus kembali pada jati dirinya mengawal Islam Ahlussunnah wal-
Jamaah yang tak mudah memurtadkan komunitas yang berikrar dua kalimat
syahadat, salat, puasa, dan haji, seperti sikap moderat yang
ditunjukkan oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari dalam kitab Maqalat al-
Islamiyin dan sikap Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab al-Istishad
fi al-I’tiqad.

Letak kesalahan mendasar sikap NU terhadap suatu aliran teologis
adalah ma’khodz-nya yang serba fikih. Semestinya, jika yang dihadapi
itu aliran teologis, yang cenderung sufistik, maka kitab-kitab
teologis/kalam dan karya-karya tasawuf yang menjadi rujukan.

Jika yang terakhir itu dilakukan, saya yakin kesimpulannya akan
menempatkan JAI sebagai aliran teologis-sufistik yang mirip dengan
gerakan tarekat yang at home dalam NU.

Imam Ghazali Said , pengasuh Pesma “An-Nur”, anggota LBM PB NU, dan
ketua FKUB Kota Surabaya

Iklan

Juli 7, 2008 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas

Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas

Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah. Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita yang mulai cenderung salah arah tersebut.

Penyerangan, Bukan Bentrok

Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi ini “bentrokan” antara massa FPI dan AKKBB. Istilah bentrokan sungguh menyesatkan karena itu mengandaikan AKKBB juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.

Faktanya, FPI menyerang massa AKKBB. Saat itu, acara belum dimulai. Sebagian massa AKKBB berada di pelataran Monas menunggu aksi longmarch yang akan dimulai dari kawasan belakang stasiun Gambir. Sambil menunggu massa AKKBB yang lain, massa yang ada di pelataran Monas tersebut duduk-duduk. Ketika massa FPI mendekat, massa AKKBB diperintahkan untuk duduk. Saya sendiri yang menyampaikan kepada massa untuk tidak terprovokasi, karena kami melihat massa FPI semakin dekat dan berteriak-teriak sambil mengancung-acungkan pentungan. Saya lalu meminta massa untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Belum sempat lagu kebangsaan itu dinyanyikan, massa FPI sudah menyerbu. Mereka memukul dengan pentungan bambu, meninju, menendang, menginjak-injak, sambil melontarkan sumpah serapah. Saya masih sempat menyeru massa AKKBB untuk tetap duduk, sebab kesepakatan kita, aksi ini adalah aksi damai. Kalau ada serangan fisik, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Massa AKKBB memang patuh kepada kesepakatan, tidak ada satupun massa yang melakukan perlawanan. Tetapi karena serangan begitu massif, akhirnya massa AKKBB bubar menyelematkan diri. Ibu-ibu menangis, anak-anak menjerit ketakutan, puluhan orang menderita luka.

Tidak Ada Provokasi

Beberapa hari setelah tragedi, muncul pemberitaan bahwa massa AKKBB melakukan provokasi terlebih dahulu melalui orasi yang menyatakan bahwa massa penyerang itu adalah “laskar setan atau iblis.” Itu adalah dusta besar. Faktanya, acara belum dimulai. Orasi belum dilaksanakan. Yang ada hanyalah seruan kepada peserta AKKBB untuk duduk, untuk tidak terprovokasi, dan untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Dan tidak pernah ada bukti bahwa orasi provokasi benar-benar dilakukan oleh AKKBB.

Patut dicatat beberapa pernyataan dalam orasi-orasi pemimpin serangan FPI pada saat serangan telah dilakukan. Alfian Tanjung mengatakan di depan massa FPI: “Saya bangga dengan Anda semua yang telah melibas mereka dengan cepat.” Indikasi bahwa aksi ini dilakukan secara terencana dan dengan restu Riziq Shihab bisa dilihat dari pernyataan Alfian Tanjung selanjutnya: “Pada pertemuan terakhir kita dengan Habib Riziq, dia memegang tangan saya, “Ustadz Alfian, hari minggu siang kita perang.”  Pada kesempatan itu, Alfian juga mengatakan bahwa mereka baru saja menang satu kosong, dan mereka akan terus menang sampai 1000 kosong.

Menjelang bubar, Munarman menyampaikan kepada massanya bahwa aksi mereka hari itu belum apa-apa: “Kita belum memenangkan pertempuran… Berikutnya kita akan datangi tempat-tempat mereka. Kita akan datangi yang namanya Goenawan Mohamad. Kita akan datangi yang namanya Asmara Nababan. Munarman juga menyampaikan: “Sudah ada penyampaian baik dari polisi maupun intelijen kita yang menyatakan konsentrasi massa pembela-pembela Ahmadiyah itu sudah bubar. Tidak ada kegiatan di HI dan di depan RRI.”

Bukti-bukti orasi ini sangat penting untuk melihat bahwa FPI memang melakukan serangan secara terencana dan bukan insidental.

Senjata Api

Ada foto yang beredar tentang seorang berbaju putih yang mengangkat pistol. Ini, oleh beberapa berita, disebut sebagai provokasi dari AKKBB. Perlu ditegaskan kembali bahwa aksi hari itu adalah aksi Apel Akbar Peringatan 63 Tahun Pancasila dengan tema “Satu Indonesia untuk Semua.” Sejak awal, aksi AKKBB adalah aksi damai. Jangankan memprovokasi, kita bahkan sepakat bahwa jika ada serangan, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Tidak pernah ada instruksi bagi peserta aksi untuk membawa senjata tajam. Fakta bahwa banyak peserta aksi adalah ibu-ibu dan anak-anak adalah bukti bahwa aksi ini memang dirancang dalam format damai.

Ada anggapan bahwa si pembawa pistol adalah massa AKKBB karena mengenakan pita merah putih di lengan bajunya. Yang harus diketahui adalah bahwa panitia aksi hari itu sama sekali tidak menyediakan atribut pita merah putih yang dipasang di lengan baju. Panitia hanya menyediakan kalung pita merah putih yang hanya dipakai oleh para perangkat dan simpul-simpul aksi. Aksi ini sendiri bersifat umum karena mengundang siapa saja melalui media massa dan pengumuman internet. Penggunaan atribut pita merah putih di lengan baju dilakukan pada aksi AKKBB sebelumnya, 6 Mei 2008. Tetapi pada 1 Juni 2008, panitia tidak menyediakan atribut serupa.

Ada pernyataan Munarman yang menarik. Dia mengatakan: “Kami tidak bisa dibohongi karena sudah menyusupkan orang kami di tengah-tengah mereka….” (Sabili No. 25 Th. XV).

Keluar Rute

Massa AKKBB juga dianggap menyalahi pemberitahuan kepada pihak polisi karena tidak patuh kepada rute awal, yakni belakang stasiun gambir kemudian menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI). AKKBB dianggap melanggar karena masuk ke pelataran Monas.

Faktanya, rencana aksi AKKBB akan dimulai pukul 14.00 WIB. Penyerangan yang dilakukan FPI di dalam pelataran Monas adalah pukul 13.15 WIB. Perlu diketahui adalah bahwa massa AKKBB yang ada di pelataran Monas tersebut tidak sedang melakukan aksi, melainkan bersiap-siap menuju tempat dimulainya aksi, yakni belakang stasiun Gambir. Massa yang diperkirakan hadir pada aksi peringatan Pancasila tersebut adalah sekitar 10.000 orang. Massa ini belum berkumpul pada satu titik secara utuh, mereka masih berpencar di sekitar Monas, karena hari itu memang Monas sangat ramai. Massa AKKBB masih menunggu dimulainya aksi. Massa AKKBB masih bergerombol di banyak sekali tempat di sekitar Monas. Salah satu kumpulan massa yang terbesar adalah di tempat di mana massa FPI menyerang tersebut. Massa AKKBB masih ada di banyak tempat, sebagian besar masih dalam perjalanan. Tidak benar aksi keluar dari rute, sebab aksi belum dimulai.

Menipu Peserta

Berita terakhir yang banyak beredar bahwa AKKBB telah menipu massa anak-anak dan ibu-ibu yang diajak untuk berwisata ke Dufan, tetapi kemudian diarahkan menjadi peserta aksi. Ini juga adalah dusta.

Faktanya, aksi peringatan Pancasila ini sudah diberitakan melalui tidak kurang dari delapan media cetak. Pemberitahuan ini juga ditambah dengan pengumuman di pelbagai mailing list. Dan tidak pernah keluar bukti bahwa para peserta itu ditipu. Yang terjadi adalah upaya untuk memfitnah aksi AKKBB ini dengan pelbagai cara.

Pengalihan Isu BBM

Fitnah yang paling keji dan menggelikan adalah ketika tragedi Monas disebut sebagai bentuk pengalihan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sengaja dilakukan oleh AKKBB. Fitnah ini sangat keji, karena peserta aksi AKKBB yang prihatin terhadap gejala pengabaian dasar negara, Pancasila, kemudian tanpa bukti disebut untuk mengalihkan isu.

Faktanya, jika tragedi ini disebut sebagai pengalihan isu, maka sesungguhnya yang patut disebut sebagai pelaku pengalihan isu adalah massa penyerang. Inisiatif menyerang ada di tangan FPI. Kalau mereka tidak melakukan gerakan serangan, maka barangkali isu kenaikan harga BBM akan tetap jadi perbincangan. Sekali lagi, AKKBB adalah korban dari sebuah inisiatif serangan dari pihak FPI.

Saidiman

www.saidiman. wordpress. com

Juni 24, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ahmadiyah Menjawab

Oleh: M.B. Shamsir Ali, SH, SHD

Telah lebih sebulan ini harian Republika sering kali memuat artikel tentang Jemaat Ahmadiyah dan Pendirinya dalam berbagai judul. Sejauh yang kami ketahui, sangat sedikit sekali, bahkan boleh dikatakan tidak ada, upaya Republika untuk mengkonfrontir isi artikel itu kepada pihak Jemaat Ahmadiyah Indonesia, padahal hal itu sangat penting agar pembaca Republika memperoleh informasi yang benar, akurat dan berimbang. Sekedar contoh kelemahan akibat tidak dilaksanakannya amanat etika jurnalistik itu terjadi pada wawancara Rachmat Santosa Basarah dengan Ahmad Hariadi yang dimuat Republika tanggal 14 Mei 2008 yang lalu.

Dalam wawancara itu, Ahmad Hariadi ditanya : Siapa pemimpin Ahmadiyah sedunia sekarang?
Hariadi menjawab: Mirza Ghulam Ahmad, lahir pada 1835 dan meninggal pada 1908. Dia mendirikan Ahmadiyah tahun 1889. Setelah meninggal, dia diganti oleh khalifah Ahmadiyah pertama. Kemudian, bertutur-turut diganti oleh khalifah kedua, ketiga, dan keempat. Khalifah keempat ini adalah cucunya Mirza Ghulam Ahmad, namanya, Tahir Ahmad. (Tugas saya menyadarkan Jemaat Ahmadiyah, Republika, 14 Mei 2008, http://www.republika .co.id/koran_ detail.asp? id=333920&kat_id=505)

Semua orang yang meneliti secara langsung pasti tahu bahwa Hadhrat Mirza Tahir Ahmad sudah wafat beberapa tahun yang lalu. Sekarang, Jemaat Ahmadiyah telah dipimpin oleh Khalifahnya yang kelima, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad. Kekeliruan seperti ini sungguh sangat keterlaluan, sebab ini merupakan fakta yang terbuka dan jelas, setiap saat siapa saja dapat mengakses situs resmi Jemaat Ahmadiyah http://www.alIslam. org; http://www.mta.tv; atau situs-situs resmi Ahmadiyah di berbagai Negara di dunia.

Begitu pula dalam Republika 16 April 2008 (‘Wahyu Cinta’ Mirza Ghulam) tertulis, “Ada 88 kitab – termasuk – Tadzkirah – yang dikarang MGA …” Padahal Tadzkirah bukan dikarang oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.

Bila hal-hal ‘sederhana’ semacam itu terjadi kekeliruan maka dapat dipastikan terjadi kekeliruan dalam tulisan-tulisan Republika lainnya yang berkaitan dengan Jemaat Ahmadiyah dan pendirinya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang kebanyakannya dikutip dari pihak-pihak yang berseberangan dengan Jemaat Ahmadiyah atau mantan penganut aliran Ahmadiyah seperti Hasan Aodah maupun Ahmad Hariadi yang dikeluarkan dari aliran Ahmadiyah. – bukan keluar melainkan dikeluarkan dari Ahmadiyah. Republika hanya bertumpu kepada Hasan Bin Mahmud Aodah tentang asumsi bahwa MGA adalah pelayan imperialis Inggris. Sepatutnya Republika menghubungi pihak pemerintah Inggris ataupun India untuk memastikan kebenaran klaim Aodah itu.

Mengingat tidak mungkin semuanya dapat dikemukakan maka sebagai pemenuhan atas hak jawab. Berikut ini kami sampaikan pernyataan Pendiri Jemaat Ahmadiyah tentang keIslaman beliau dan kecintaan beliau kepada agama Islam dan Rasulullah Muhammad SAW.

Jemaat Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah sebuah Jamaah Islam yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1889 Masehi/ 1306 Hijriah, di Qadian India. Dan beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan al Masih yang dijanjikan kedatangannya oleh Nabi Muhammad SAW.

Jemaat Ahmadiyah bukan sebuah agama baru. Jemaat Ahmadiyah bekerja untuk menghidupkan Agama Islam dan menegakkan syari’at Islam. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, “Wahai kalian yang bermukim di muka bumi dan wahai jiwa semua yang ada di barat atau di timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran hakiki di dunia ini hanyalah Islam, Tuhan yang benar adalah Allah sebagaimana yang terdapat di dalam Al Qur’an, sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian yang abadi dan sekarang bertahta diatas singgasana keagungan dan kesucian adalah wujud terpilih Muhammad SAW. ( Rukhani Khazain, vol. 15, hal. 141); Dibawah kolong langit ini hanya ada satu Rasul dan satu Kitab. Rasul itu adalah Hadhrat Muhammad SAW yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna dibanding semua Rasul . . . Kitab tersebut adalah Al Quran yang merangkum bimbingan yang benar dan sempurna.” (Rukhani Khazain, vol. 1 hal. 557

Jemaat Ahmadiyah berpegang teguh kepada Kitab Suci Al Quranul Karim. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, “Keselamatan dan kebahagiaan abadi manusia adalah karena bisa bertemu dengan Tuhan-nya dan hal ini tidak akan mungkin dicapai tanpa mengikuti Kitab Suci Al Qur’an.” (Rukhani Khazain vol. 10 hal. 442); “Apa yang termaktub di dalam Al Qur’an merupakan wahyu utama dan mengatasi serta berada diatas semua wahyu-wahyu lainnya.” (Majmua Isytiharat, vol. 2 hal. 84); “Kitab Suci Al Qur’an merupakan sebuah mukjizat yang kapanpun tidak ada dan tidak akan pernah ada tandingannya.” (Malfuzhat, vol. III, hal. 57)

Berkenaan dengan dua kalimah Syahadat, beliau menulis, ““Inti dari kepercayaan saya adalah: Laa Ilaaha Illallahu, Muhammadur-Rasulull ahu (Taka ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan dalam hidup ini, dan yang padanya kami, dengan rahmat dan karunia Allah, berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini ialah: Sayyidina Maulana Muhammad SAW adalah Khataman Nabiyyin dan Khairul Mursalin, yang termulia dari antara nabi-nabi. Ditangan beliau hukum syari’at telah disempurnakan. Karunia yang sempurna ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai ‘kesatuan’ dengan Tuhan Yang Mahakuasa.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, 1891: 137)

Jemaat Ahmadiyah berkeyakinan bahwa nabi Muhammad saw adalah khataman nabiyyin. Pendiri Jemaat Ahamdiyah menulis,

“Tuduhan yang dilontarkan terhadap diri saya dan terhadap Jamaah saya bahwa kami tidak mempercayai Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khataman Nabiyyin merupakan kedustaan besar yang dilontarkan kepada kami. Kami meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Khatamul Anbiya dengan begitu kuat, yakin, penuh makrifat dan bashirat, yakni seperseratus ribu dari yang itupun tidak dilakukan oleh orang-orang lain. Dan memang tidak demikian kemampuan mereka. Mereka tidak memahami hakikat dan rahasia yang terkandung di dalam Khatamun Nubuwat Sang Khatamul Anbiya. Mereka hanya mendengar sebuah kata dari tetua mereka, tetapi tidak tahu menahu tentang hakikatnya. Dan mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan Khatamun Nubuwat – yakni apa makna mengimaninya. Namun kami, dengan penuh bashirat (Allah Taala yang lebih tahu) meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai Khatamul Anbiya. Dan Allah Taala telah membukakan pintu hakikat Khatamun Nubuwwat kepada kami sedemikian rupa, yakni dari serbat irfan yang telah diminumkan kepada kami itu kami mendapat suatu kelezatan khusus yang tidak dapat diukur oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang memang telah kenyang minum dari mata air ini juga.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Malfuzhat, jld. I, halaman 342)

“Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Khatamul Anbiya. Seorang yang tidak percaya pada Khatamun Nubuwwah beliau (Rasulullah SAW), adalah orang yang tidak beriman dan berada diluar lingkungan Islam.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taqrir Wajibul I’lan, 1891)

“Martabat luhur yang diduduki junjungan dan penghulu kami, yang terutama dari semua manusia, nabi yang paling besar, Hadhrat Khatamun Nabiyyin SAW telah berakhir dalam diri beliau yang di dalamnya terhimpun segala kesempurnaan dan yang sebaliknya tak dapat dicapai manusia.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taudhih Maram, 1891 hal. 23)

“Yang dikehendaki Allah supaya kita percaya hanyalah ini, bahwa Dia adalah Esa dan Muhammad SAW adalah Nabi-Nya, dan bahwa beliau adalah Khatamul Anbiya dan lebih tinggi dari semua makhluk.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Kisti Nuh, tahun 1902, halaman 15)

“Untuk sampai kepada-Nya semua pintu telah tertutup, kecuali sebuah pintu yang dibukakan oleh Qur’an Majid dan semua kenabian dan semua kitab-kitab yang terdahulu tidak perlu lagi diikuti, sebab kenabian Muhammadiyah, mengandung dan meliputi kesemuanya itu. Selain ini semua jalan tertutup. Semua jalan yang membawa kepada Tuhan terdapat di dalamnya. Sesudahnya tidak akan datang kebenaran baru, dan tidak pula sebelumnya ada suatu kebenaran yang tidak terdapat di dalamnya. Sebab itu, diatas kenabian ini habislah semua kenabian. Memang sudah sepantasnya demikian sebab sesuatu yang ada permulaannya, tentu ada pula kesudahannya.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, AL Wasiyat, JAI 2006, hal. 24)

Sesudah Nabi Muhammad SAW, tidak boleh lagi mengenakan istilah Nabi kepada seseorang, kecuali bila ia lebih dahulu menajdi seorang ummati dan pengikut dari Nabi Muhammad SAW.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Tajalliyati Ilahiyah, 1906, hal. 9)

“Semua pintu kenabian telah tertutup kecuali pintu penyerahan seluruhnya kepada Nabi Muhammad SAW dan pintu fana seluruhnya kedalam beliau.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Ek Ghalti ka Izalah, 1901, hal. 3)

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sangat menyintai Rasulullah Muhammad SAW, berkenaan dengan kecintaan dan keediaan beliau mengorbankan jiwa raga demi kemuliaan Rasulullah Muhammad SAW beliau menulis,

“Saya katakan dengan sejujur-jujurnya bahwa kami dapat berdamai dengan ular berbisa dan srigala buas, tetapi kami tak dapat berkompromi dengan orang yang melakukan serangan-serangan keji terhadap Nabi Muhammad yang kami cintai, orang yang lebih kami hargakan dari kehidupan kami dan orang tua kami.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Paighami Sulh, 1908 hal. 30)

“Sekiranya orang-orang ini menyembelih anak-anak kami didepan mata kami dan mencincang apa-apa yang kami cintai sampai berkeping-keping dan membuat kami mati dengan hina dan malu dan merampas semua harta dunia kami, maka demi Tuhan, semua itu tidak akan begitu menyakitkan hati kami seperti yang kami alami atas cacian dan hinaan yang dilancarkan kepada Nabi kami, Muhammad SAW.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Aina Kamalati Islam, 1893, hal. 52)

“Aku menyaksikan suatu kehebatan dalam wajahmu yang bersinar cemerlang, yang melebihi semua sifat manusia lain. Pada wajahnya tampak Tuhan Muhaimin dan seluruh keadaannya bagaikan cermin. Yang menampakkan keindahan sifat Ilahi dan kebesarannya sungguh menyilaukan. Ia mengungguli seluruh manusia dengan kemampuan, kesempurnaan dan keelokannya dan kehebatan serta dalam kesegaran jiwanya. Sedikitpun tidak diragukan lagi, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah terbaik diantara seluruh makhluk. Paling mulia diantara yang mulia dan inti orang-orang yang terpilih. Segala sifat yang terbaik dan terpuji, pada diri beliaulah puncaknya. Anugerah nikmat yang ada pada setiap zaman, telah berakhir dalam dirinya. Beliau adalah yang terbaik dari semua orang yang mendapat Qurb Ilahi sebelumnya. Keunggulan beliau karena kebaikan-kebaikan, bukan karena zaman. Wahai Tuhanku, turunkanlahh berkat-berkat kepada Nabi-Mu abadi selamanya, di dunia ini dan di hari kebangkitan kedua.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Aina Kamalaati Islam, halaman 594-596)

Dalam usia lebih dari 100 tahun, Jemaat Ahmadiyah tjelah berkembang dan berada di hampir 200 negara di dunia dengan jumalah anggota lebih dari 200 juta jiwa.

Dalam upaya menegakkan agama Islam dan menyebarkan syiar Islam keseluruh dunia. Jemaat Ahmadiyah mendapat dana dari pengorbana para anggota yaitu infaq/ iuran setiap anggota wajib membayar infaq /iuran tiap bulannya sebesar 1/16 sampai dengan 1/3 dari pendapatan perbulan.

Jemaat Ahmadiyah tidak pernah meminta atau menerima satu sen pun dana/biaya dari luar: baik dari perorangan / organisasi/ pemerintah/ Negara.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah bagian dari Jamaah Ahmadiyah Internasional yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani pada tahun 1889 di Qadian India. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad kami yakini adalah Almasih dan Imam Mahdi yang kedatangannya telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Keyakinan tentang datangnya Imam Mahdi dan Nabi Isa di akhir Zaman adalah keyakinan seluruh umat Islam dari golongan manapun. Tugasnya adalah menghidupkan kembali agama Islam dan menegakkan kembali syariat Islam.

Jemaat Ahmadiyah pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1925, diundang oleh Persatuan Mahasiswa Jawa Sumatra di India ketika itu, yang akhirnya Maulana Rahmat Ali HAOT merupakan Muballigh pertama yang diutus ke Indonesia oleh Hadhrat AL-Hajj Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad rh., Khalifah Ahmadiyah ketika itu.

Jemaat Ahmadiyah berperan aktif dalam proses pendirian NKRI dan salah seorang anggotanya, Sayyid Shah Muhammad adalah Ketua Panitia Pemulihan Pemerintahan RI. Beliau mendapat bintang jasa kehormatan dari pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia dikukuhkan ber-Badan Hukum sesuai bunyi Lembaran Berita Negara no. 26 tahun 1953 dengan penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 tanggal 13 Maret 1953.

Dalam upaya menyebarkan agama Islam, Jemaat Ahmadiyah mengirimkan ribuan Da’i ke seluruh penjuru dunia; membangun ribuan masjid di berbagai penjuru dunia diantaranya Masjid Baitul Futuh, Morden London UK yang merupakan mesjid terbesar di Eropa Barat; menerjamahkan Al Qur’an kedalam 100 bahasa di dunia sehingga seluruh bangsa dapat mempelajari secara langsung Kitab Suci tersebut; Mendirikan stasiun televisi MTA Internasional (MTA 1; MTA 2 dan MTA 3 Al Arabiyya) yang dipancarkan ke seluruh penjuru dunia 24 jam nonstop menggunakan tujuh buah satelit; melaksanakan bakti kemanusiaan melalui Humanity First tanpa memandang ras, agama, keyakinan maupun bangsa, termasuk membantu menanggulangi Tsunami di Aceh;

Jamaah Ahmadiyah Internasional dipimpin oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V yang saat ini berkedudukan di London, Inggris. Dalam rangkaian muhibah pimpinan tertinggi Jamaah Ahmadiyah Internasional, tanggal 17-19 April 2008 Khalifah Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menghadiri pertemuan tahunan Ahmadiyah Ghana yang dihadiri oleh Presiden Ghana, Ageyaku Kufour, dan wakil Presiden, Alhaj Aliu Mahama dan pajabat-pejabat Negara lainnya.

Jemaat Ahmadiyah perpegang teguh kepada mottonya, Love for All, Hatred for None (Cinta kepada semua orang dan tiada kebencian kepada siapapun.) n

Juni 18, 2008 Posted by | Ahmadiyah | 1 Komentar

Pandangan Tokoh Islam Indonesia tentang Ahmadiyah

2. Pandangan Tokoh Islam Indonesia tentang Ahmadiyah

Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah bagian dari Jamaah Ahmadiyah Internasional yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani pada tahun 1889 di Qadian India. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad kami yakini adalah Almasih dan Imam Mahdi yang kedatangannya telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Keyakinan tentang datangnya Imam Mahdi dan Nabi Isa di akhir Zaman adalah keyakinan seluruh umat Islam dari golongan manapun. Tugasnya adalah menghidupkan kembali agama Islam dan menegakkan kembali syariat Islam.

Jemaat Ahmadiyah pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1925, diundang oleh Persatuan Mahasiswa Jawa Sumatra di India ketika itu, yang akhirnya Maulana Rahmat Ali HAOT merupakan Muballigh pertama yang diutus ke Indonesia oleh Hadhrat Al-Hajj Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad rh., Khalifah Ahmadiyah ketika itu.

Jemaat Ahmadiyah berperan aktif dalam proses pendirian NKRI dan salah seorang anggotanya, Sayyid Shah Muhammad adalah Ketua Panitia Pemulihan Pemerintahan RI. Beliau mendapat bintang jasa kehormatan dari pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia dikukuhkan ber-Badan Hukum sesuai bunyi Lembaran Berita Negara no. 26 tahun 1953 dengan penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 tanggal 13 Maret 1953. Pandangan beberapa tokoh bangsa dan tokoh Islam Indonesia terhadap Ahmadiyah antara lain:

1. Prof. Dr. Hamka, tidak asing lagi bagi masyarakat kita, seorang alim terkemuka, berpengaruh dan termasuk orang yang menentang Ahmadiyah. Namun demikian Prof. Dr. Hamka “DIPAKSA” oleh hati nuraninya untuk berkata dan menulis tentang KEBENARAN dan Jasa Ahmadiyah seperti berikut:

“Adapun Kaum Ahmadi (Ahmadiyah) dan Usahanya Menyebarkan Islam di benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka Menafsirkan Qur’an ke dalam bahasa-bahasanya yang hidup di Eropa. Padahal di zaman 100 tahun yang lalu masih merata kepercayaan tidak boleh menafsirkan Qur’an. Penafsiran Qur’an dari kedua golongan Ahmadiyah itu membangkitkan minat bagi golongan yang Menginginkan Kebangkitan Ajaran Muhammad kembali buat memperdalam selidiknya tentang Islam … ” [Pelajaran Agama Islam, hal. 199, cetakan pertama 1956, Penerbit Bulan Bintang].

2. Dr. H Abdul Karim Amarullah alias haji Rasul, ayahanda Dr. Hamka, salah satu ulama terkemuka di negara kita pada zamannya dan PENENTANG PERTAMA Mubaligh Ahmadiyah di Sumatera Barat tahun 1925/1926. Sekalipun memusuhi Ahmadiyah namun beliau TIDAK SEGAN MEMUJI DAN MENGAKUI JASA DAN UPAYA Ahmadiyah meng-Islamkan kaum Keristen. Beliau mengatakan dalam sebuah bukunya [Al-Qaulush- Shahih hal. 149, Bukit Tinggi, 1926]:

“Di atas nama Islam dan kaum Muslimin sedunia kita memuji sungguh kepada pergerakan Ghulam Ahmad tentang mereka banyak menarik kaum Nasrani (Keristen) masuk agama Islam di tanah Hindustan dan lain- lain tempat …

3. Dalam Almanak Muhammadiyah hal. 42 tahun 1347 Hijriah; “Mubaligh-mubaligh Ahmadiyah telah bermukim di Barat sangat keras mengembangkan agama Islam dan meratakan pengajarannya, begitullah berangsur-angsur terus menerus yang datang pada kemudiannya, hingga di antara mubaligh itu ada yang menuju pusatnya kaum Keristen di tanah Roma, Italia dan hendak di-Islamkannya …

4. H. Agus Salim dan H.O.S Cokroaminoto “Kongres Serikat Islam 26-29 januari 1928 di Jogjakarta memperingati hari S.I. 15 tahun. Sebagai dimaksudkan dahulu itu, diadakan juga Majelis Ulama itu, tetapi Muhammadiyah tidak mau turut duduk di Majelis itu sebenarnya Majelis S.I. adanya, jadi di luar organisasi ini, tidak mempunyai kekuasaan apa-apa. Di Kongres itu dibicarakan juga tafsir Qur’an yang sedang dikerjakan oleh Cokroaminoto. Dari penerbitan-penerbit an pertama, ternyatalah bahwa tafsir itu didasarkan atas Tafsir Ahmadiyah. Lantran ini timbullah dalam kalangan sendiri perlawanan yang keras. Salim menerangkan, bahwa dari segala jenis tafsir Qur’an, yaitu dari kaum kuno, kaum Muktazilah, ahli sufi dan golongan moderen (di antaranya Ahmadiyah, Wahabi baru, dan kaum Theosofi), Tafsir Ahmadiyah-lah yang paling baik untuk memberi kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia yang terpelajar”. [Mr. A.K. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakkan- pergerakan Rakyat Indonesia, 1946, cetakan kelima, halaman 47, Penerbit Pustaka Rakyat]

5. Prof. Dr. Hasbullah Bakry; Seorang penulis terkenal, Ulama dan Guru Besar Hukum Islam dan Perbandingan Agama. “Akhirulkalam kami berpendapat Ghulam Ahmad adalah ulama besar seperti ulama besar lainnya sedangkan pengikutnya adalah umat Islam tanpa perlu diragukan Islamnya, dan salah besar mereka yang menganggap kafir. Semoga Allah SWT. menguatkan selanjutnya pendapat kami ini dengan menggerakkan para ulama lainnya dalam membelanya, amin”. [Pedoman Islam di Indonesia, hal. 441, cetakan ke lima 1990, Penerbit Universitas Indonesia, Press).

6. Ir. Soekarno (Presiden RI Pertama) “Ahmadiyah adalah besar pengaruhnya, juga di luar India. Ia bercabang di mana-mana, ia menyebarkan banyak perpustakaannya ke mana-mana. sampai di Eropa dan Amerika orang baca ia punya buku- buku, sampai di sana ia sebarkan punya propagandis- propagandis. Corak ia punya Sistem adalah memprogandakan Islam dengan cara apologetis, yakni mempropagandakan Islam dengan mempertahankan Islam itu terhadap serangan-serangan dunia Nasrani; mempropagandakan Islam dengan membuktikan kebenaran Islam di hadapan kritikannya dunia Nasrani, ya … Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting di dalam pembaharuan pengertian Islam di India, dan satu faktor penting pula di dalam mempropagandakan Islam di benua Eropa khususnya, di kalangan kaum intelektuil seluruh dunia umumnya.

7. Prof. Dr. Amien Rais ( Mantan Ketua MPR RI/PP Muhamadiyah ). “Ahmadiyah bukan gerakan politik. Beberapa stasiun televisi mereka di Eropa hanya bicara tentang ajaran,Islam, akhlak, dan ekonomi.Di Pakistan mereka tetap eksis. Mereka naik haji ke Mekkah dan Madinah,juga tetap salat lima waktu. Bahkan setahu saya, banyak jenderal angkatan laut, darat, dan udara di Pakistan orang Ahmadiyah. Bahkan pemenang Nobel Fisika, Dr Abdussalam, juga orang Ahmadiyah. Jadi mereka itu sekumpulan orang intelektual. Bahkan, kalau mau jujur, yang menyiarkan agama Islam di Eropa, ya, orang-orang Ahmadiyah lewat stasiun televisi dan stasiun radio. (Majalah Tempo, 28 April 2008).

8. Forum Kyai Peduli Khittah Nahdatul Ulama. Kiai-kiai sepuh yang tergabung dalam Forum kyai Peduli Khittah Nahdatul Ulama 26 Cirebon menyatakan sikap menolak rekomendasi tersebut. Mereka menyayangkan sikap Bakorpakem yang menyatakan ajaran Ahmadiyah. sesat, tanpa terlebih dulu mengetahui pengertian sesat menurut agama. “Nanti jangan-jangan semua aliran Islam yang masih ada oleh Bakorpakem dinyatakan sesat,” ujar KH Syarif Usman Yahya. (Tribun Timur.com, 24 April 2008).

9. Prof. Dr. Dakwam Rahardjo, Tokoh Muhamadiyah Padahal Ahmadiyah sendiri tidak menganggap dirinya sebagaikelompok non-Muslim. Mereka hanya mengaku sebagai sebuah sekte atau mazhab dalam Islam. Bahkan mereka juga menganggap diri mereka sebagai salah satu bentuk danmanifestasi gerakan kebangkitan Islam pada abad ke-19.

10. Adnan Buyung Nasution pengacara senior……………

11. Din Syamsudin Ketua PP Muhammadiyah

12. Todung Mulya Lubis ( Pengacara Senior ) Pernyataan yang menuding Ahmadiyah sesat adalah pernyataan arogan, Negara tidak punya hak masuk domain pribadi. Kita akan melawan setiap pembubaran organisasi. (Detiknews.com, 04 Mei 2008).

13. Goenawan Muhamad (Redaktur Senior Tempo) SKB Ahmadiyah jangan dikeluarkan karena bertentangan dengan kebebasan beragama . Jika Ahmadiyah dibubarkan , satu lagi bagian penting Negara dikhianati (Detiknews.com, 04 Mei 2008).

14. Yudi Latif – Hasil Survey PSIK Paramadina.Mayoritas warga menyatakan Ahmadiyah berhak hidup di Indonesia (Kompas online, 22 April 2008).

15. Ade Armando ( Mantan Wartawan Republika/ Pemred Majalah Madina) “Ahmadiyah itu sudah ada di Indonesia sejak 1920an. Pernahkah kita mendengar mereka melakukan aksi kekerasan dan menyerang pihak lain? Tidak. Dan ini bisa dijelaskan dengan merujuk pada salah satu dasar ajaran Ahmadiyah. Mereka memang anti menggunakan kekerasan untuk memperjuangkan Islam. Istilah jihad dalam komunitas Ahmadiyah dipercaya sebagai penyebaran ajaran dengan cara dakwah dan persuasif. (Majalah Madina)

16. Sobri Lubis ( Sekjen FPI ) “Bunuh, bunuh, bunuh, BUNUH! PERANGI AHMADIYAH, BUNUH AHMADIYAH, BERSIHKAN AHMADIYAH DARI INDONESIA! Ahmadiyah halal darahnya! Persetan HAM! Tai kucing HAM! Allahu Akbar” ( Video Tablig Akbar, FUI, Banjar , 14 Feb 2008)

17. Maftuh Basyuni ( Menteri Agama RI Menag mengecam keras pelaku pembakaran Masjid Ahmadiyah. Dia menilai aksi pembakaran tersebut adalah tindak kejahatan yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang berakal sehat.”Itu satu kejahatan yang harus dibasmi .( Media Indonesia, 30 April 2008).

18. Tersangka Pembakar Mesjid A[1]hmadiyah Tidak Ditahan karena jaminan MUI (Antara News, 29 April 2008)

19. Hamka Haq ( Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia)Pelarangan dan aksi kekerasan atau ancaman terhadap jemaat Ahmadiyah merupakan tindakan yang melanggar konstitusi. kontroversi soal Ahmadiyah hanya merupakan perbedaan penafsiran,   tidak ada perbedaan keyakinan yang prinsipil. Dia juga menyatakan Fatwa MUI yang melarang dan mengharamkan Ahmadiyah dikatakannya tidak tepat.


Juni 17, 2008 Posted by | Ahmadiyah | Tinggalkan komentar

Ahmadiyah adalah Islam

Ahmadiyah adalah Islam

Siapakah yang disebut sebagai orang Islam.

“(Ibrahim berkata):Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. QS.2:132

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua(Yahudi, Nasrani dan muslim); agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”.QS 21:92.QS.23: 52.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”. QS.4:125.

“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu.” (22:78)1

Dari keempat pemberitahuan ALLAH diatas itu dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwa ;
Agama islam itu bermula dari Nabi Ibrahiim as.

a) Agama islam itu adalah agama TAUHID, ALLAH Yang Esa, tidak ada Tuhan selain ALLAH. Tidak menyekutukan ALLAH dengan tuhan2 yang lain.

b) Menyerahkan diri kepada ALLAH Yang Maha Esa.

c) Orang2 yahudi,Nasrani dan Muslim adalah orang2 beragama islam, menyembah Tuhan yang satu pada mula2nya.

Siapakah Muslim, itu? Berikut ini ada beberapa hadits Nabi saw yang menulis tentang itu, diantaranya:

“Siapa pun yang shalat seperti aku dan menghadapkan wajahnya ke kiblat kita dan makan binatang sembelihan kita, maka ia adalah muslim dan berada di bawah perlindungan Allah dan rasul-Nya. Maka janganlah mengkhianati Allah dengan mengkhianati orang-orang yang berada di dalam perlindungan-Nya.” (H. R. Bukhari)5

“Barangsiapa memanggil atau menyebut seorang itu kafir atau musuh Allah padahal sebenarnya bukan demikian, maka ucapannya itu akan kembali kepada orang yang mengatakan [menuduh] itu.” Keterangan ini diambil dari kitab Bukhari, dengan penjelasan seperlunya)7

“Seorang muslim adalah orang yang tidak merugikan muslim lainnya dengan lidah maupun dengan kedua tangannya.” (H. R.Bukhari) 8

Siapakah yang sesat itu, dan apakah MUI berhak mengeluarkan fatwa sesat?

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang- orang yang mendapat petunjuk.” (6:117)2

“…Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (16:125)3

Adanya perintah Allah Ta’ala bagi manusia agar selalu memohon kepada-Nya “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (1:6)4 merupakan bukti nyata bahwa manusia tidak berhak menetapkan dan menunjuk hidung suatu kelompok atau golongan sebagai sesatmenyesatkan. Lalu, bagaimana mungkin para kyai atau ulama MUI yang sepanjang hidupnya diperintahkan oleh Allah Ta’ala agar selalu meminta ditunjukkan jalan yang lurus, kemudian berbuat sebaliknya dengan menetapkan suatu kelompok atau golongan sebagai yang tidak lurus alias sesat-menyesatkan? Apakah para kyai atau ulama MUI telah mendapat pengesahan dari Allah bahwa mereka benar-benar telah berada di jalan yang lurus dan kemudian mendapatkan mandat dari Tuhan untuk menyatakan kelompok atau golongan lain sebagai sesat-menyesatkan?

Jadi, dari keterangan Al-Qur’an dan Hadits telah dinyatakan bahwa yang berhak menentukan seseorang atau suatu kaum sebagai Islam atau non-Islam adalah Allah Ta’ala semata dan bukannya orang atau kaum itu sendiri. Negara atau undang-undang atau peraturan9 atau pengadilan atau fatwa-fatwa ulama, sama sekali tidak mempunyai hak untuk menentukan status seseorang atau suatu kaum sebagai Muslim atau non-Muslim.

Juni 17, 2008 Posted by | Ahmadiyah | Tinggalkan komentar

Al Quran suci vs Tazdkirah

Al Quran suci vs Tazdkirah

Dari Nur suci Al-Qur’an muncul hari yang terang
Angin musim semi semilir mengusap kuntum hati.
Mentari pun tidak memiliki Nur dan kecemerlangan ini
Pesona dan keindahannya pun tak ada pada rembulan.
Yusuf dilemparkan sendiri ke sebuah lubang
Sedangkan Yusuf yang ini telah menarik manusia ke luar lubang.
Dari sumber segala ilmu, ia telah mengungkap ratusan kebenaran
Keindahannya menggugah wawasan mulia.
Tahukah kalian betapa luhur fitrat pengetahuan miliknya?
Penaka madu surgawi menetes dari wahyu Ilahi.
Ketika mentari kebenaran ini muncul di dunia,
Semua celepuk yang memuja kegelapan, bersembunyi semua.
Tak ada yang bisa merasa pasti di dunia ini,
Kecuali ia yang berlindung dalam wujudnya.
Ia yang diberkati dengan pengetahuannya
Menjadi khazanah pengetahuan,
Ia yang tidak menyadarinya
Serupa mereka yang tak tahu sesuatu apa.
Hujan rahmat Ilahi menghampiri dirinya
Wahai sialnya mereka yang meninggalkannya dan mencari yang lain.
Kecenderungan kepada dosa adalah gejala syaitan bernoda
Yang kuanggap manusia hanya mereka yang meninggal kannya.
Wahai tambang keindahan, aku tahu sumbermu
Engkau adalah Nur dari Allah yang mencipta semesta.
Aku tak hasrat dengan siapa pun, hanya engkau kasihku
Kami telah menerima nurmu dari Dia yang mendengar doa.
(Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 304-305, London, 1984).

Demikian indahnya syair yang dibuat oleh Ghulam Ahmad untuk menandakan ketinggian dan keindahan Al-Quran nur karim. Indahnya puisi ini sudah jelas menunjukkan pandangan Ghulam Ahmad dan Ahmadiyah terhadap Al-Quran.

Tazkirah adalah bukan Kitab suci atau Wahyu yang berisi Syariat seperti halnya sebagai pegangan hidup agama2 samawi. Tazkirah adalah kumpulan wahyu, kasyaf, mimpi-mimpi benar yang diterima Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang belakangan setelah wafatnya dikumpulkan menjadi sebuah buku oleh para pengikutnya, kaum Ahmadi.

Sehubungan dengan adanya beberapa kesamaan ayat-ayat suci dalam Al-Quran yang juga termuat dalam Tadzkirah, menunjukkan firman yang diterima oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s (HMGA) juga datang dan bersumber dari sumber yang sama dengan firman yang diperoleh YML Rasulullah saw, yaitu Allah Ta’ala. Bukankah logikanya, ini menandakan bahwa beliau memang dan benar-benar utusan Allah Ta’ala? Coba diperhatikan, berapa banyak firman Allah Ta’ala yang disampaikan kepada Nabi Musa a.s, kemudian disampaikan lagi kepada Isa a.s dan Nabi Muhammad s.a.w? Dan kita tidak akan pernah menyebut para rasul YML tersebut sebagai pembajak, penjiplak dan pencontek firman Allah yang diturunkan dari kitab sebelumnya.

Para pihak yang belum mengenal Ahmadiyah sering mengatakan bahwa Kitab Tadzkirah adalah kitab sucinya Jemaat Ahmadiyah karena di halaman depan kitab itu tertulis “wahyu muqaddas” (wahyu suci), dan karena
dalam kitab ini banyak memuat wahyu-wahyu suci dari Allah yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad dan wahyu-wahyu suci itu kemudian dikumpulkan menjadi sebuah kitab, maka Tadzkirah memang layak dinamakan sebagai kitab Suci, dan kalau tidak dikumpulkan menjadi sebuah kitab maka wahyu-wahyu itu tidaklah suci.

Memang benar, pada halaman pertama Kitab (Buku) Tadzkirah terdapat tulisan “wahyu muqaddas” dan setiap Muslim yang suka belajar pasti mengerti bahwa semua wahyu yang berasal dari Allah Ta’ala adalah wahyu
muqaddas (wahyu suci). Wahyu dari Allah yang diterima oleh para nabi adalah wahyu suci. Wahyu dari Allah yang diterima oleh perempuan (Siti Maryam dan ibundanya Nabi Musa a.s.) adalah wahyu suci. Wahyu dari
Allah yang diterima oleh laki-laki yang bukan nabi (para sahabat Nabi Isa a.s.) adalah wahyu suci. Wahyu dari Allah yang diterima oleh binatang (Lebah) adalah wahyu suci. Wahyu dari Allah yang diterima oleh para wali (Imam Syaafi’i r.h., Imam Ahmad bin Hanbal r.h., Syekh Muhyiddin ibn Arabi r.h., Syekh Abdul Qadir al-Jaelani r.h., dan
lain-lain) adalah wahyu suci. Demikian pula dengan wahyu dari Allah Ta’ala yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. adalah wahyu suci. Semua wahyu dari Allah Ta’ala kepada hamba yang dikehendaki- Nya tidak
akan pernah berhenti, karena Allah adalah Mutakallim (Maha Berkata-kata). Karena para pihak yang memusuhi berusaha mengatakan bahwa wahyu-wahyu suci (wahyu muqaddas) yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad dan kemudian dikumpulkan dalam suatu buku (Buku Tadzkirah) harus dinamakan sebagai kitab suci, dan jika tidak dinamakan sebagai kitab suci, maka wahyu-wahyu itu tidak suci.

Logika yang keliru seperti itu jelas timbul dari kurangnya pengetahuan dan bertentangan dengan fakta yang ada. Kanjeng Sayyidina Rasulullah s.a.w. banyak menerima wahyu-wahyu suci (wahyu muqaddas) dari Allah Ta’ala yang kemudian dikumpulkan dalam suatu buku namun TIDAKdinamakan sebagai KITAB SUCI oleh umat Islam. Wahyu-wahyu suci itu dikenal dengan nama HADITS QUDSI (Hadits Suci), dan wahyu-wahyu suci itu bukanlah bagian dari Al-Qur’an.

Apakah para pihak yang memusuhi Ahmadiyah itu berani mengatakan wahyu-wahyu suci Hadits Qudsi) yang diterima oleh Rasulullah s.a.w. dan dikumpulkan oleh orang-orang Islam ke alam suatu buku kemudian dinamakan sebagai KITAB SUCI? Tentu jawaban mereka adalah: Ya, Hadits Qudsi bukanlah kitab suci…” Demikian pula jawaban soal Tadzkirah, bagi Jemaat Ahmadiyah kitab Tadzkirah bukanlah Kitab Suci, dan kitab sucinya Jemaat Ahmadiyah adalah Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Perbedaan Al-Quran terbitan Jemaat Ahmadiyah dibandingkan beberapa naskah Al-Quran terbitan yang lain terletak pada penomoran ayat. Jemaat Ahmadiyah memulai penomoran ayat dari “Bismillah…” sebagaimana hadits Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.: “Nabi s.a.w. tidak mengetahui pemisahan antara Surah itu sehingga Bismillahirrahmaanirrahiim turun kepadanya.” (H. R. Abu Daud, “Kitab Shalat”, dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”)

Bagaimana sesungguhnya pandangan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s terhadap Alquran suci dan nabi Muhammad s.a.w.

1. Sub judul : YANG MENDAPAT KEMULIAAN DILANGIT (hal.20, buku Bahtera Nuh)
Ada pula bagimu sekalian suatu ajaran yang penting, yaitu kamu hendaknya jangan meninggalkan Alquran sebagai benda yang dilupakan; sebab, justru didalam Alquran lah terdapat kehidupanmu. Barang siapa memuliakan Alquran ia akan memperoleh kemuliaan dilangit. Barang siapa lebih mengutamakan Alquran dari segala Hadis dan dari segala ucapan lain, akan diutamakan dilangit. Bagi umat manusia diatas permukaan bumi ini, kini tidak ada Kitab lain kecuali Alquran dan bagi seluruh bani Adam kini tidak ada seorang rasul juru safaat selain Muhammad Mustafa s.a.w. Maka berusahalah untuk menaruh kecintaan yang setulus-tulusnya kepada Nabi agung itu dan janganlah meninggikan seseorang selain beliau dalam segi apapun. Agar dilangit kamu dicatat, didaftar orang-orang yang memperoleh keselamatan.

2. Di halaman 40 buku Bahtera Nuh, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s juga menulis dengan sub judul “KETINGGIAN ALQURAN”. didalam Alquran terdapat larangan untuk beribadah kepada sesuatu selain Tuhan: terlarang untuk menyembah manusia, hewan, matahari, bulan, dan sesuatu planit lain; begitu pula terlarang untuk memuja sarana-sarana duniawi dan dirimu sendiri. Oleh karena itu, berhati-hatilah dan janganlah melangkahkan kaki biarpun hanya selangkah tetapi bertentangan dengan ajaran Tuhan dan petunjuk Alquran. Aku berkata dengan sesungguh-sungguhny a, bahwa barangsiapa mengabaikan suatu perintah sekecil-kecilnya diantara sejumlah tujuh ratus buah perintah Alquran, ia menutup pintu keselamatan bagi dirinya sendiri dengan tangannya sendiri.
Maka bacalah Alquran dengan seksama dan hendaklah kamu sangat mencintainya dan dengan demikian rupa cintanya sehingga kamu belum pernah mencintai sesuatu yang lain dari itu, karena sebagaimana Tuhan berfirman kepadaku bahwa segala macam kebaikan terdapat didalam Alquran, itu sungguh benar. Alangkah sayangnya orang-orang yang lebih mengutamakan sesuatu selain Alquran. Sumber segala kebahagian dan keselamatan bagimu terdapat didalam Alquran. Di bawah kolong langit ini tidak ada sebuah kitabpun yang secara langsung dapat memberi petunjuk-petunjuk kepadamu kecuali Alquran. Allah Ta’ala telah berkenan berbuat banyak kebajikan kepadamu dengan menganugerahkan kepadamu sebuah Kitab Suci seperti Alquran. Jika sekiranya Alquran tidak diturunkan, maka seantero dunia tidak ubahnya hanya laksana segumpal daging yang menjijikan belaka.

Muhasrul itulah ajaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s kepada murid-murid beliau yang terdapat dalam buku Bahtera Nuh yang katakanya anda juga punya. Mengapa anda masih ngotot dengan Tazkirah dan ingin memaksakan kitab suci Ahmadiyah adalah Tazkirah? Mengapa mata anda anda butakan atas fakta ini. Mengapa hati anda anda bengkokkan atas kebenaranan ini?

Juni 17, 2008 Posted by | Ahmadiyah | 3 Komentar

Tuduhan-tuduhan Terhadap Ahmadiyah dan Ghulam Ahmad

Tuduhan-tuduhan Terhadap Ahmadiyah dan Ghulam Ahmad

Dalam Bayan DSP PKS Nomor: 17/B/K/DSP-PKS/1429 Tentang Ahmadiyah yang bisa di baca di link http://www.pksjogja.or.id/bayan-dsp-pks-nomor-17bkdsp-pks1429-tentang-ahmadiyah/ , PKS ternyata juga ikut-ikutan melakukan fitnah terhadap AHMADIYAH.

“Ahmadiyah atau Al-Qadiyaniyah adalah aliran keagamaan yang dibidani oleh penjajah Inggris bertujuan agar umat Islam tidak melakukan jihad menentang koloni terhadap Inggris”.

Tahun 2006, buku Dr. Ihsan Ilahi Zahir berjudul Al Qadiyaniyah, dirasat wa tahlil, diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Drs. Asmuni. Judulnya ‘Mengapa Ahmadiyah Dilarang?’ diikuti oleh dua baris judul kecil, Fakta sejarah dan I’tiqadnya (Dirujuk dari 91 buku-buku Ahmadiyah). Dalam bukunya dia juga menyebut tentang Ghulam Ahmad dalam buku itu Ihsan Ilahi Zhahir menulis bahwa

“Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pernah menyampaikan pengakuan dalam sebuah pidato yang beliau sajikan untuk Ratu Britania ketika mengadakan lawatan ke India. Konon pengakuan itu berisi pernyataan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad bahwa semua yang beliau terima adalah berkah dari penjajah Britania. (lihat, Mengapa Ahmadiyah Dilarang? Halaman 3, baris ke 15 dari atas)”.

Tujuan Ihsan Ilahi Zhahir mengemukakan ‘peristiwa’ itu tentu untuk membuktikan kedekatan Ahmadiyah dengan pemerintah Inggris, sekaligus mengesahkan tuduhan bahwa Ahmadiyah itu boneka buatan Inggris untuk ‘mengobok-obok’ Islam dan merusak akidah Islam. Peristiwa itu juga dijadikan dasar untuk menuduhkan bahwa kenabian Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad itu adalah gelar yang disematkan oleh pemerintah Inggris kepada beliau.

Jemaat Ahmadiyah tentu sangat ‘concern’ akan masalah ini. Untuk membuktikan ada tidaknya pertemuan yang disebut-sebut itu, pihak Ahmadiyah berupaya untuk melakukan pengumpulan data secara fair dengan cara menghubungi langsung pemerintah Inggris. Tentu saja agenda perjalanan seorang Ratu, adalah catatan sejarah yang penting dan Negara manapun tidak akan dengan begitu saja mengabaikan pencatatannya.

Pejabat pemerintah Inggris, dalam hal ini petugas arsip kerajaan, melalui surat yang ditanda tangani oleh Sheila De Bellaigue, Deputy Registrar mengungkapkan bahwa Ratu Victoria tidak pernah berkunjung ke India; Dan tidak ada keluarga kerajaan yang berkunjung ke India antara tahun 1835 dan 1908 dalam kedudukannya sebagai Raja atau Ratu (masa masa kelahiran Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad hingga kewafatan beliau); Tidak ada catatan adanya pertemuan antara keluarga kerajaan Inggris dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dan terakhir tidak ada catatan tentang Ahmadiyah di dalam arsip kerajaan Inggris.

Dengan begitu, jelas bahwa bangunan yang hendak ditegakkan oleh Ihsan Ilahi Zhahir dan hendak dipertontonkannya ke seluruh dunia, bahwa Ahmadiyah adalah antek-antek Inggris ternyata dibangun diatas pondasi kebohongan dengan mereka-reka suatu pertemuan fiktif.

Pernyataan al Ustadz Allamah As Sayyid Muhammad Al_Muntasir Al Kattani, mantan kepala bagian Ilmu-ilmu Al Qur’an dan Sunnah Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus, mantan Guru Besar bidang Fikih Maliki dan Kebudayaan Islam di Universitas Ar-Ribath Maghribi, dan anggota Panitia Ensiklopedi Fikih Islam di Universitas Damaskus serta Guru Besar bidang Hadits dan FIkih di dua fakultas Syari’ah dan Ushuluddin di Universitas Islam Madinah Munawwarah, bahwa Ghulam Ahmad Al-Qadiani adalah seorang budak hina dari budak Britania yang menjual kepada mereka agama, kemuliaan, akal, kehidupan, dan menyebarkan semua dalam buku-buku, risalah-risalah, dan makalah-makalah yang dia namai wahyu kenabian dan agama … kenabian yang dikukuhkan oleh para tokoh penjajah, … (lihat, Mengapa Ahmadiyah Dilarang, halaman xv).

Ini adalah kebohongan besar. Sebab dalam tulisan itu telah dinyatakan perbuatan beberapa pihak. Pertama, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah bertemu dengan Ratu Britania dan menyampaikan pidato dihadapannya. Dan pidato itu berisi sebuah pengakuan. Kedua, bahwa Ratu Britania telah berkunjung ke India dan telah bertemu dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad serta mendengarkan pengakuannya. Ketiga, telah mendengar pidato itu dan menyaksikan kedua belah pihak itu bertemu, atau telah membaca sebuah buku yang melaporkan peristiwa tersebut. Jadi bila itu merupakan kebohongan, maka jumlah kebohongannya sedikitnya sebagai berikut:

  1. Berbohong bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah bertemu Ratu Britania.
  2. Berbohong bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah menyampaikan pidato dihadapan Ratu Britania.
  3. Berbohong bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad telah mengemukakan pengakuan atas jasa-saja Ratu Britania.
  4. Berbohong bahwa Ratu Britania telah berkunjung ke India padahal tidak pernah.
  5. Berbohong bahwa Ratu Britania telah bertemu dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad di suatu tempat di India.
  6. Berbohong bahwa Ratu Britania telah mendengar secara langsung pengakuan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.
  7. Telah berbohong menyaksikan peristiwa itu [seandainya ia mengaku telah menyaksikan peristiwa itu, sebab di dalam bukunya tidak dikatakan dengan jelas apakah ia melihat sendiri, atau mendengar dari orang lain, atau membaca tulisan orang lain].
  8. Telah berbohong membaca buku yang mencatat peristiwa itu.
  9. Berbohong bahwa seseorang telah menulis laporan tentang peristiwa tersebut.

Hal yang lebih menggelikan adalah pernyataan bahwa syahadat Ahmadiyah adalah mengakui Ghulam Ahmad sebagai pengganti YML Rasulullah s.a.w sebagaimana bayak diucapkan oleh Amin Jamaluddin sebagai Ketua LPPI (http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/01/17/menjawab-kebohongan-ahmadiyah/). Ghulam Ahmad sendiri menulis: Berkenaan dengan dua kalimah Syahadat, beliau menulis,

“Inti dari kepercayaan saya adalah: Laa Ilaaha Illallahu, Muhammadur-Rasulull ahu (Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan dalam hidup ini, dan yang padanya kami, dengan rahmat dan karunia Allah, berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini ialah: Sayyidina Maulana Muhammad SAW adalah Khataman Nabiyyin dan Khairul Mursalin, yang termulia dari antara nabi-nabi. Ditangan beliau hukum syari’at telah disempurnakan. Karunia yang sempurna ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai ‘kesatuan’ dengan Tuhan Yang Mahakuasa.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, 1891: 137).

Pernyataan tentang syahadat Jemaat Ahmadiyah ini dapat dilihat dalam situs resmi Ahmadiyah International (http://www.alislam.org/books/religiousknowledge/sec1.html#kalima) dan juga di situs Ahmadiyah Indonesia (http://www.ahmadiyya.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=215&Itemid=1). Sehingga hal yang berhubungan dengan syahadat bagi muslim Ahmadiyah sudahlah sangat jelas, yaitu Bertuhan Kepada Allah taala, dan mengakui Muhammad bin Abdullah sebagai rasulNya.

Tuduhan lainnya yang dialamatkan kepada Ghulam Ahmad adalah membajak Al-Quran. Bayan DSP PKS Nomor: 17/B/K/DSP-PKS/1429 Tentang Ahmadiyah dinyatakan sebagai berikut:

Tadzkirah adalah kitab suci Ahmadiyah isinya penuh dengan kebohongan dan kedustaan. Sebagian besarnya berupa pembajakan dan pemalsuan dari Al-Qur’an. Di antara kedustaan dan pemalsuan isi kitab tadzkirah antara lain:

-Tadzkirah hal 43 membajak Al-Qur’an surat al-Anfal 17.

-Tadzkirah hal 342 (Haqiqatul Wahyi hal 71) membajak Al-Qur’an surat As-Shaff 9.

– point 3 tentang pokok keyakinan Ahmadiyah versi PKS yaitu Ahmadiyah menyakini bahwa kitab Tadzkirah sama sucinya dengan kitab al-Qur’an

Pembahasan tentang ini secara lebih detil akan dijelaskan dalam point 8. Al-Quran suci vs Tazdkirah.

Point 4 dalam tuduhan PKS, yang juga dinyatakan oleh Amin Jamaluddin, yaitu Ahmadiyah memiliki tempat suci sendiri yaitu di Qadian India. Mungkin istilah PKS tentang tempat suci cukup halus, tetapi Amin Jamaluddin menfitnah lebih keras dengan menyebutkan Ahmadiyah naik haji ke Qadian.

Soal haji ini Ghulam Ahmad menulis:

“Maka, wahai sekalian orang yang merasa dirinya tergolong dalam jemaatku! Kamu sekalian di langit baru akan tergolong dalam warga jemaatku, setelah kamu sekalian benar-benar melangkahkan kakimu pada jalan ketaqwaan. Oleh karena itu dirikanlah sembahyang kelima waktu dengan penuh rasa ketakutan dan pemusatan pikiran, seakan-akan kamu sekalian melihat wajah Ilahi di hadapanmu. Jalankanlah hari-hari puasamu karena Allah dengan penuh ketulusan. Setiap orang yang wajib membayar zakat, hendaklah ia melunasi zakat. Barangsiapa yang telah memenuhi syarat untuk menunaikan ibadah Haji, dan tidak ada yang menghalangi, hendaklah ia menunaikan ibadah Haji. Kerjakanlah segala amalan baik dengan cermat, dan tinggalkanlah perbuatan buruk disertai perasaan jengkel.” (Kisyti Nuh, hlm. 22-23)7

Siapakah yang berhaji itu, dalam situs Ahmadiyah sangat jelas bahwa ibdah Haji Ahmadiyah adalah sama dengan ibadah haji umat Islam lainnya. Khalifah pertama Ahmadiyah bergelar Haji Alhakim Nuruddin, disebut haji setelah menjalankan kewajiban itu di bulan qurban (haji). Demikian pula Ahmadi lainnya, sebagian besar mubaligh Ahmadiyah di menjalani pendidikan di Qadian namun tidak bergelar Haji. Kakek saya  sepulang dari Qadian tidak disebut Haji, adalah bapak saya  yang kemudian menjadi Haji setelah pulang dari Mekkah walaupun tidak pernah ke Qadian. Saya bisa menyebutkan puluhan orang Ahmadi yang pulang dari Qadian dan bukan Haji, disamping saya bisa menyebutkan ratusan Ahmadi yang tidak pernah ke Qadian tetapi menjadi Haji sepulang dari Mekkah.

Seiring dengan fatwa MUI dan Rabithah Al Islami, maka Jemaat Ahmadiyah dipersulit dalam melaksanakan Haji. Bapak saya yang tinggal di Makassar naik haji dengan menggunakan kloter dari Yogyakarta dsb. Padahal barang siapa mempersulit seorang muslim dalam ibadahnya tentunya bukanlah seorang muslim sebagaimana hadits YML saw berikut

“Seorang muslim adalah orang yang tidak merugikan muslim lainnya dengan lidah maupun dengan kedua tangannya.” (H. R.Bukhari) 8

Fitnah point 6 berbunyi “Mirza Ghulam Ahmad menyakini bahwa ajarannya yang benar, bagi mereka yang tidak masuk Ahmadiyah maka mereka adalah sesat dan akan masuk neraka Jahannam”.

Barangkali fitnah ini dilatarbelakangi istilah “kafir” bagi orang yang tidak mengakui Ghulam Ahmad sebagai Al Masih yang dijanjikan, sebagaimana di klaim banyak Ahmadi.

Perlu dijelaskan disini tentang istilah “kafir” yaitu tidak selamanya sebutan kafir ditujukan kepada orang yang mengingkari Tuhan, nabi, rasul, kitab, dan sebagainya. Ternyata istilah itu beragam pemakaiannya. Contohnya sebagai berikut:

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah kamu menjadi kafir di belakangku, sehingga sebagian dari kamu memancung leher yang lain.” (Misykat Jilid 1, hlm. 37)3

Dalam Hadits ini yang dimaksud kafir oleh Rasulullah s.a.w.adalah orang-orang mukmin agar jangan saling memerangi, sebab perbuatan demikian disebut kafir.

Selanjutnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Siapa di antara budak-budak yang lari meninggalkan tuannya,

maka sesungguhnya ia telah menjadi kafir sebelum ia kembali kepada tuan mereka.” (H. R. Muslim, jld. 1, hlm. 37)4

“Ada dua sifat yang masih terdapat di kalangan umatku, mereka masih kafir dalam dua sifat itu, yakni mencela kebangsaan orang lain dan meratapi mayit.” (H. R. Muslim, jld.1, hlm. 37)5

“Perjanjian teguh yang membedakan kita dengan mereka (orang-orang kafir dan musyrik) adalah sembahyang, maka barangsiapa meninggalkan sembahyang niscaya kafir-lah dia.” (Misykat, hlm. 58)6

Jadi, apabila ada sebutan kafir, maka yang dimaksud tak lain hanya menyatakan, tanpa sekelumit pun rasa benci atau tidak bersahabat, bahwa orang itu tidak beriman dan mengingkari kebenaran seorang nabi atau rasul. Dalam kaitan ini, perhatikanlah dengan cermat tulisan Pendiri Jemaat Ahmadiyah berikut ini:

“Cobalah perhatikan kebohongan para alim-ulama, betapa mereka menuduh kami telah mengkafirkan dua ratus juta kaum muslimin, padahal bukanlah kami yang memulai hal ini, bahkan para ulamalah yang mula-mula mengkafirkan kami dan mereka pulalah yang telah menimbulkan kiamat dengan menghamburkan fatwa-fatwa mengkafirkan kami, dan dengan fatwa-fatwa itu mereka telah menimbulkan kegemparan di seluruh India …” (Haqiqatul Wahyi, hlm.120-121)7

Sekarang akan disampaikan bukti bahwa para ulama Islam di Hindustan-lah yang pertama kalinya mengkafirkan Hz. Mirza Ghulam Ahmad dan Jemaat Ahmadiyah. Selain itu, menurut Jemaat Ahmadiyah, kafir ada 2 macam. Mengingkari nabi tasyri’i (nabi pembawa syari’at) adalah lain halnya dengan mengingkari nabi ummati (nabi pengikut syari’at). Karena Rasulullah s.a.w. adalah nabi pembawa syari’at, maka mengingkari Islam atau mengingkari Rasulullah s.a.w., secara langsung dapat membuat seseorang itu menjadi kafir, artinya menjadi non-Muslim. Dalam kondisi di mana seseorang menerima Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Rasulullah dan Al- Qur’an sebagai Kalamullah, namun ia mengingkari Masih Mau’ud (Al-Masih yang Dijanjikan), maka keingkarannya itu bukanlah suatu ke-kafir-an yang dapat membuatnya langsung menjadi non-Muslim. Karena Masih Mau’ud adalah nabi ummati, maka mengingkari beliau berarti membuat seseorang menjadi kafir (ingkar) terhadap nabi ummati. Sebagai anggota di dalam umat Rasulullah s.a.w., orang itu tetap disebut muslim, akan tetapi dia menjadi kafir dalam hal mengingkari Masih Mau’ud.12

Mengingkari Masih Mau’ud bukanlah kekafiran secara langsung, melainkan kekafiran secara tidak langsung, sebagaimana halnya kenabian Masih Mau’ud itu adalah kenabian yang tidak langsung. Inilah yang merupakan ruh dari tulisan Pendiri Jemaat Ahmadiyah berikut ini:

“Poin ini perlu diingat bahwa menyatakan orang-orang yang mengingkari pendakwaannya sebagai kafir hanyalah ciri nabi-nabi yang membawa syari’at serta hukum-hukum baru dari Allah Ta’ala. Akan tetapi, selain daripada pembawa syari’at, segenap mulham (penerima ilham) dan muhaddats (orang yang bercakap-cakap dengan Allah Ta’ala) – tidak perduli betapa mulia kedudukannya di sisi Allah dan memperoleh anugerah bercakap-cakap langsung dengan Allah – dengan mengingkari mereka tidak ada yang menjadi kafir.” (Taryaqul Qulub, catatan kaki hlm. 130, Ruhani Khazain jld. 15, cat. kaki hlm. 432)13

Juni 17, 2008 Posted by | Ahmadiyah | Tinggalkan komentar

Ghulam Ahmad Memuliakan Rasulullah saw

2. Ghulam Ahmad Memuliakan Rasulullah saw

Tuduhan dari sekelompok ulama yang menyatakan bahwa Ghulam Ahmad r.a, adalah menghina YML Rasulullah saw adalah tidak benar. Demikian juga tuduhan bahwa Ahmadiyah adalah antek Inggris dan didirikan untuk kepentingan kolonial Inggris.

Jemaat Ahmadiyah berkeyakinan bahwa nabi Muhammad saw adalah khataman nabiyyin. Pendiri Jemaat Ahmadiyah menulis,

“Tuduhan yang dilontarkan terhadap diri saya dan terhadap Jamaah saya bahwa kami tidak mempercayai Rasulullah Muhammad SAW sebagai Khataman Nabiyyin merupakan kedustaan besar yang dilontarkan kepada kami. Kami meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Khatamul Anbiya dengan begitu kuat, yakin, penuh makrifat dan bashirat, yakni  seperseratus ribu dari yang itupun tidak dilakukan oleh orang-orang lain. Dan memang tidak demikian kemampuan mereka. Mereka tidak memahami hakikat dan rahasia yang terkandung di dalam Khatamun Nubuwat Sang Khatamul Anbiya. Mereka hanya mendengar sebuah kata dari tetua mereka, tetapi tidak tahu menahu tentang hakikatnya. Dan mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan Khatamun Nubuwat – yakni apa makna mengimaninya. Namun kami, dengan penuh bashirat (Allah Taala yang lebih tahu) meyakini Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai Khatamul Anbiya. Dan Allah Taala telah membukakan pintu hakikat Khatamun Nubuwwat kepada kami sedemikian rupa, yakni dari serbat irfan yang telah diminumkan kepada kami itu kami mendapat suatu kelezatan khusus yang tidak dapat diukur oleh siapapun kecuali oleh orang-orang yang memang telah kenyang minum dari mata air ini juga.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Malfuzhat, jld. I, halaman 342)

“Dengan sungguh-sungguh saya percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Khatamul Anbiya. Seorang yang tidak percaya pada Khatamun Nubuwwah beliau (Rasulullah SAW), adalah orang yang tidak beriman dan berada diluar lingkungan Islam.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taqrir Wajibul I’lan, 1891).

“Martabat luhur yang diduduki junjungan dan penghulu kami, yang terutama dari semua manusia, nabi yang paling besar, Hadhrat Khatamun Nabiyyin SAW telah berakhir dalam diri beliau yang di dalamnya terhimpun segala kesempurnaan dan yang sebaliknya tak dapat dicapai manusia.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Taudhih Maram, 1891 hal. 23)

“Yang dikehendaki Allah supaya kita percaya hanyalah ini, bahwa Dia adalah Esa dan Muhammad SAW adalah Nabi-Nya, dan bahwa beliau adalah Khatamul Anbiya dan lebih tinggi dari semua makhluk.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Kisti Nuh, tahun 1902, halaman 15).

“Untuk sampai kepada-Nya semua pintu telah tertutup, kecuali sebuah pintu yang dibukakan oleh Qur’an Majid dan semua kenabian dan semua kitab-kitab yang terdahulu tidak perlu lagi diikuti, sebab kenabian Muhammadiyah, mengandung dan meliputi kesemuanya itu. Selain ini semua jalan tertutup. Semua jalan yang membawa kepada Tuhan terdapat di dalamnya. Sesudahnya tidak akan datang kebenaran baru, dan tidak pula sebelumnya ada suatu kebenaran yang tidak terdapat di dalamnya. Sebab itu, diatas kenabian ini habislah semua kenabian. Memang sudah sepantasnya demikian sebab sesuatu yang ada permulaannya, tentu ada pula kesudahannya.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Al Wasiyat, JAI 2006, hal. 24).

Sesudah Nabi Muhammad SAW, tidak boleh lagi mengenakan istilah Nabi kepada seseorang, kecuali bila ia lebih dahulu menjadi seorang ummati dan pengikut dari Nabi Muhammad SAW.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Tajalliyati Ilahiyah, 1906, hal. 9)

“Semua pintu kenabian telah tertutup kecuali pintu penyerahan seluruhnya kepada Nabi Muhammad SAW dan pintu fana seluruhnya kedalam beliau.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Ek Ghalti ka Izalah, 1901, hal. 3).

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sangat mencintai Rasulullah Muhammad SAW, berkenaan dengan kecintaan dan kesediaan beliau mengorbankan jiwa raga demi kemuliaan Rasulullah Muhammad SAW beliau menulis, “Saya katakan dengan sejujur-jujurnya bahwa kami dapat berdamai dengan ular berbisa dan serigala buas, tetapi kami tak dapat berkompromi dengan orang yang melakukan serangan-serangan keji terhadap Nabi Muhammad yang kami cintai, orang yang lebih kami hargakan dari kehidupan kami dan orang tua kami.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Paighami Sulh, 1908 hal. 30).

“Sekiranya orang-orang ini menyembelih anak-anak kami didepan mata kami dan mencincang apa-apa yang kami cintai sampai berkeping-keping dan membuat kami mati dengan hina dan malu dan merampas semua harta dunia kami, maka demi Tuhan, semua itu tidak akan begitu menyakitkan hati kami seperti yang kami alami atas cacian dan hinaan yang dilancarkan kepada Nabi kami, Muhammad SAW.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Aina Kamalati Islam, 1893, hal. 52).

“Aku menyaksikan suatu kehebatan dalam wajahmu yang bersinar cemerlang, yang melebihi semua sifat manusia lain. Pada wajahnya tampak Tuhan Muhaimin dan seluruh keadaannya bagaikan cermin. Yang menampakkan keindahan sifat Ilahi dan kebesarannya sungguh menyilaukan. Ia mengungguli seluruh manusia dengan kemampuan, kesempurnaan dan keelokannya dan kehebatan serta dalam kesegaran jiwanya. Sedikitpun tidak diragukan lagi, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah terbaik diantara seluruh makhluk. Paling mulia diantara yang mulia dan inti orang-orang yang terpilih. Segala sifat yang terbaik dan terpuji, pada diri beliaulah puncaknya. Anugerah nikmat yang ada pada setiap zaman, telah berakhir dalam dirinya. Beliau adalah yang terbaik dari semua orang yang mendapat Qurb Ilahi sebelumnya. Keunggulan beliau karena kebaikan-kebaikan, bukan karena zaman. Wahai Tuhanku, turunkanlah berkat-berkat kepada Nabi-Mu abadi selamanya, di dunia ini dan di hari kebangkitan kedua.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Aina Kamalaati Islam, halaman 594-596).

Juni 17, 2008 Posted by | Ahmadiyah | Tinggalkan komentar

Apakah Ahmadiyah Itu

2. Apakah Ahmadiyah Itu (http://www.alislam.org/introduction/index.html)

Ahmadiyah adalah sebuah Jamaah Islam yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1889 Masehi/ 1306 Hijriah, di Qadian India. Dan beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan al Masih yang dijanjikan kedatangannya oleh Nabi Muhammad SAW.

Jemaat Ahmadiyah bukan sebuah agama baru. Jemaat Ahmadiyah bekerja untuk menghidupkan Agama Islam dan menegakkan syari’at Islam. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, “Wahai kalian yang bermukim di muka bumi dan wahai jiwa semua yang ada di barat atau di timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran hakiki di dunia ini hanyalah Islam, Tuhan yang benar adalah Allah sebagaimana yang terdapat di dalam Al Qur’an, sedangkan Rasul yang memiliki hidup keruhanian yang abadi dan sekarang bertahta diatas singgasana keagungan dan kesucian adalah wujud terpilih Muhammad SAW. ( Rukhani Khazain, vol. 15, hal. 141); Dibawah kolong langit ini hanya ada satu Rasul dan satu Kitab. Rasul itu adalah Hadhrat Muhammad SAW yang lebih luhur dan agung serta paling sempurna dibanding semua Rasul . . . Kitab tersebut adalah Al Quran yang merangkum bimbingan yang benar dan sempurna.” (Rukhani Khazain, vol. 1 hal. 557).

Jemaat Ahmadiyah berpegang teguh kepada Kitab Suci Al Quranul  Karim. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, “Keselamatan dan kebahagiaan abadi manusia adalah karena bisa bertemu dengan Tuhan-nya dan hal ini tidak akan mungkin dicapai tanpa mengikuti Kitab Suci Al Qur’an.” (Rukhani Khazain vol. 10 hal. 442); “Apa yang termaktub di dalam Al Qur’an merupakan wahyu utama dan mengatasi serta berada diatas semua wahyu-wahyu lainnya.” (Majmua Isytiharat, vol. 2 hal. 84); “Kitab Suci Al Qur’an merupakan sebuah mukjizat yang kapanpun tidak ada dan tidak akan pernah ada tandingannya.” (Malfuzhat, vol. III, hal. 57)

Berkenaan dengan dua kalimah Syahadat, beliau menulis, “”Inti dari kepercayaan saya adalah: Laa Ilaaha Illallahu, Muhammadur-Rasulull ahu (Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan dalam hidup ini, dan yang padanya kami, dengan rahmat dan karunia Allah, berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini ialah: Sayyidina Maulana Muhammad SAW adalah Khataman Nabiyyin dan Khairul Mursalin, yang termulia dari antara nabi-nabi. Ditangan beliau hukum syari’at telah disempurnakan. Karunia yang sempurna ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai ‘kesatuan’ dengan Tuhan Yang Mahakuasa.” (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Izalah Auham, 1891: 137).

Dalam usia lebih dari 100 tahun, Jemaat Ahmadiyah telah berkembang dan berada di hampir 200 negara di dunia dengan jumlah anggota lebih dari 200 juta jiwa. Dalam upaya menegakkan agama Islam dan menyebarkan syiar Islam keseluruh dunia. Jemaat Ahmadiyah mendapat dana dari pengorbana para anggota yaitu infaq/ iuran setiap anggota wajib membayar infaq/ iuran tiap bulannya sebesar 1/16 sampai dengan 1/3 dari pendapatan perbulan. Jemaat Ahmadiyah tidak pernah meminta atau menerima satu sen pun dana/ biaya dari luar: baik dari perorangan/ organisasi/ pemerintah/ Negara.

Dalam upaya menyebarkan agama Islam, Jemaat Ahmadiyah mengirimkan ribuan Da’i ke seluruh penjuru dunia; membangun ribuan masjid di berbagai penjuru dunia diantaranya Masjid Baitul Futuh, Morden London UK yang merupakan mesjid terbesar di Eropa Barat; menterjamahkan Al Qur’an kedalam 100 bahasa di dunia sehingga seluruh bangsa dapat mempelajari secara langsung Kitab Suci tersebut; Mendirikan stasiun televisi MTA Internasional (MTA 1; MTA 2 dan MTA 3 Al Arabiyya) yang dipancarkan ke seluruh penjuru dunia 24 jam nonstop menggunakan tujuh buah satelit; melaksanakan bakti kemanusiaan melalui Humanity First tanpa memandang ras, agama, keyakinan maupun bangsa, termasuk membantu menanggulangi Tsunami di Aceh.

Jamaah Ahmadiyah Internasional dipimpin oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V yang saat ini berkedudukan di London, Inggris. Dalam rangkaian muhibah pimpinan tertinggi Jamaah Ahmadiyah Internasional, tanggal 17-19 April 2008 Khalifah Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menghadiri pertemuan tahunan Ahmadiyah Ghana yang dihadiri oleh Presiden Ghana, Ageyaku Kufour, dan wakil Presiden, Alhaj Aliu Mahama dan pajabat-pejabat Negara lainnya.

Jemaat Ahmadiyah perpegang teguh kepada mottonya, Love for All, Hatred for None (Cinta kepada semua orang dan tiada kebencian kepada siapapun).

Juni 17, 2008 Posted by | Ahmadiyah | 1 Komentar

penjelasan mengenai RASUL / NABI ALLAH MASIH TERUS BISA DATANG

2. Penjelasan mengenai RASUL / NABI ALLAH MASIH TERUS BISA DATANG

Mengenai kedatangan Isa Ibnu Maryam di akhir zaman yaitu tentang kedatangan Nabi setelah wafatnya Nabi Muhammad saw., ini didukung oleh banyak firman Allah SWT. di dalam Al Qur-aan seperti di dalam Surah An-Nisaa ayat 69 itu, Allah Taala berfirman:

  • Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul ini (Muhammad), maka mereka akan TEMASUK di antara orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan nikmat, yakni: Nabi-nabi, para shiddiqin, syuhada-syuhada dan orang-orang shaleh. Dan, mereka itulah sahabat yang sejati.

Jadi, persyaratan untuk memperoleh di antara ke-empat nikmat Allah ini, derajat ini, ialah bahwa orang itu harus taat kepada Allah dan Rasul ini, Nabi Muhammad saw.

Derajat nikmat tertinggi yang diberikan Allah kepada manusia di sini adalah Nabi-nabi; inilah orang yang ditunjuk dan diberi kawenangan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada umat manusia.

Maka orang-orang yang dapat dijadikan sebagai sahabat yang sejati, sesuai firman Allah Taala di sini yaitu: para Nabi-nabi, para shiddiqin, syuhada-syuhada dan orang-orang shaleh.

Bilamana ulama mainstream menterjemahkannya sebagai maka mereka BERSAMA-SAMA orang- orang yang diberi nikmat oleh Allah ……………… , dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Dengan demikian dalam terjemahan mereka pun diperlihatkan mengenai adanya orang-orang yang berpangkat Nabi-nabi, para shiddiqin, syuhada-syuhada dan orang-orang shaleh itu, yang dapat dijadikan teman yang sebaik-baiknya, di zamannya mereka tersebut, jadi orang-orang yang mendapat nikmat dengan ke-4 pangkat tersebut masih ada..

Selain dari itu akan terus datangnya Nabi yang Utusan Allah itu, ini di-indikasikan dengan firman-firman Allah dalam KS. Al-Quran:

3:179, 6:124, 7:35, 10:47, 13:7, 16:36, 22:75, 23:51, 35:24, 37:72, 44:5, 61:6, 62:2-3 ………

  • Dan bagi setiap umat ada Rasul ……
  • Dan bagi setiap kaum ada petunjuk …….
  • Kami mengutus Rasul kepada setiap umat …..
  • Dan tidak ada suatu umat melainkan diberikan kepadanya Pemberi ingat.
  • Allah memilih di antara Rasul-rasul- Nya, siapa yang Dia kehendaki ……
  • Wahai anak-cucu Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul dari antara kamu ………
  • Dan pemberi kabar suka dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku yang namanya AHMAD.
  • Allah membangkitkan di antara orang-orang ummi (buta huruf – dari Bangsa Arab) seorang Rasul, dan juga kaum lain yang belum berhubungan dengan mereka (yaitu yang non-Arab).

Dalam ayat-ayat di atas bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari, yang dipakai untuk masa kini dan yang akan datang.

1). Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: ¡¨Bagaimana sikap kamu apabila turun Ibnu Maryam di tengah-tengah kamu dan menjadi Imam dari antara kamu.¡¨ (HR Muslim) kata “dari antara kamu” mengandung arti bahwa nanti nabi Isa itu adalah dari umat Muhammad SAW/Umat Islam.
2). “Sudah dekat masanya, siapa yang hidup diantara kamu akan bertemu dengan Isa ibnu Maryam Imam Mahdi Hakam Adil. Ia akan memecahkan salib dan membunuh babi” (Musnad Ahmad bin Hambal, Jilid II, hal 156).
Masih banyak hadis-hadis yang menceritakan akan datangnya nabi Isa as. Hal ini menunjukan bahwa ada
lagi nabi sesudah nabi Muhammad SAW

3). Yang Sering menjadi Persoalan adalah, kan yang dijanjikan itu Isa as bukan Mirza Ghulam Ahmad. Banyak hal yang dapat menjelaskan pertanyaan tersebut salah satu contohnya Allah telah berfirman: “Dan tatkala Ibnu Maryam disebut sebagai misal, tiba-tiba kaum engkau ingar bingar mengajukan sanggahan terhadapnya (QS Az Zukhruf :57) Artinya adalah bahwa nama Isa as yang disebut-sebut didalam hadis-hadis tersebut hanya sebagai permisalan saja, hal ini sering kita jumpai dalam kehidupan nabi-nabi sebelumnya juga dalamkehidupan kita sehari-hari, misalkan saja untuk menggambarkan sesuatu hal atau tokoh yang memiliki kesamaan, hal ini dapat dijumpai kemiripan sifat dari Nabi Isa as dengan Mirza Ghulam Ahmad.

7). Sepertinya belum ada didalam sejarah nabi-nabi, ada nabi yang menceritakan akan datangnya nabi berikutnya dengan jelas dan gamblang. Misalnya nabi Isa as itu tidak menceritakan bahwa nanti akan datang nabi itu, yang namanya Muhammad SAW, ayahnya Abdullah, ibunya Aminah dll. Yang sering terjadi tentang kedatangan nabi-nabi tersebut adalah nubuatan yang menggambarkan ciri-cirinya yang meminta kita untuk kembali mentafsirkan ciri-ciri tersebut.

Ahkamul Fuqaha (Solusi Problematika Aktual Hukum Islam) sebuah buku yang diterbitkan Lajnah Ta’lif Wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur bekerjasama dengan Penerbit Diantama Surabaya Cetakan I, Oktober 2004 dan Cetakan II, Januari 2005 (Revisi), pada halaman 50~51 memuat Keputusan nomor 46, Muktamar NU Ke-3 di Surabaya, 28 September 1928M, sbb:

Pandangan NU. Nabi Isa Akan Turun Kembali Ke Dunia Sebagai Nabi dan Rasul

Soal: Bagaimana pendapat Muktamar tentang Nabi Isa as setelah turun kembali ke dunia. Apakah tetap sebagai Nabi dan Rasul? Padahal Nabi Muhammad SAW adalah Nabi Terakhir. Dan apakah mazhab empat itu akan tetap ada pada waktu itu?

Jawab: Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa as itu akan diturunkan kembali pada akhir zaman nanti sebagai Nabi dan Rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad SAW dan hal itu tidak berarti mengahalangi Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi yang terakhir, sebab Nabi Isa as hanya akan melaksanakan syariat Nabi Muhammad SAW. Sedangkan mazhab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku).

Juni 16, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar